Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, menyatakan keterkejutannya atas kabar penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/1). Henry, yang memiliki ikatan personal dengan Maduro sejak kampanye Pemilu Venezuela 2013, mengecam keras tindakan AS tersebut.
Henry Saragih, yang pada 2013 menjabat sebagai pemimpin La Via Campesina atau Gerakan Petani Dunia, sebuah organisasi yang beranggotakan 180 organisasi petani dari 81 negara, menceritakan awal perkenalannya dengan Maduro. Menurutnya, perkenalan itu bermula dari mendiang Presiden Venezuela Hugo Chavez.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Kisah Perkenalan dengan Maduro
“Ya tentu terkejut. Saya kenal sama Maduro bermula dari Chavez, sebagai Presiden Venezuela, yang banyak mendukung petani di Latin America. Dia mendukung dalam bentuk bangunan sekolah untuk pertanian agroekologi di Venezuela dan di banyak tempat di Latin America,” ucap Henry, mengenang.
Henry menjelaskan, Chavez lah yang memperkenalkannya dengan Maduro, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. “Dia perkenalkan dengan Maduro sebagai Menteri Luar Negeri yang memperlancar dukungan-dukungan dari Venezuela untuk petani, khususnya di Latin America. Saya sebagai Koordinator Gerakan Petani Dunia tentunya mengurus itu ya karena anggota La Via Campesina berada di seluruh dunia, termasuk Latin America yang besar,” tambahnya.
Ketika Chavez meninggal dunia, Maduro muncul sebagai suksesor. Henry diundang langsung oleh Maduro untuk ikut berkampanye. “Chavez meninggal dunia dan Maduro sebagai suksesinya, ya saya diundang oleh Maduro untuk memberi kesaksian agar dia dipilih oleh rakyat Venezuela,” jelas Henry.
Dalam kampanye tahun 2013 itu, Henry naik ke panggung bersama Maduro. Maduro memperkenalkan Henry sebagai ‘my brother’ dan memberinya mikrofon untuk berpidato. Henry kemudian menyampaikan pidato dukungannya dalam bahasa Inggris, yang diterjemahkan ke bahasa Spanyol oleh rekannya.
Kecaman atas Penangkapan Maduro
Menyikapi penangkapan Maduro, Henry Saragih tidak ragu melontarkan kecaman. Ia menilai aksi AS tersebut sebagai preseden yang sangat berbahaya bagi kedaulatan negara-negara lain.
“Ini adalah preseden berbahaya ‘imperialisme tanpa topeng’. Ketika sebuah negara berusaha mempertahankan kedaulatan politik, sumber daya, dan pangan rakyatnya, maka pemimpinnya dikriminalisasi dan dinegasikan legitimasinya,” ujar Henry dengan tegas.
Henry menyoroti keberanian Maduro dalam melanjutkan nasionalisasi pengelolaan sumber daya alam. Ia khawatir tindakan AS ini akan berujung pada perampasan tanah para petani kecil di Venezuela. Apalagi, Mureks mencatat bahwa Presiden AS Donald Trump secara terbuka pernah menyatakan keinginannya untuk menguasai minyak Venezuela.
“Hari ini Venezuela, besok bisa negara lain. Karena itu, kami menolak segala bentuk intervensi, penculikan, dan kriminalisasi politik atas nama apa pun,” pungkas Henry, menyerukan penolakan terhadap intervensi asing.
Sebagai informasi, AS menangkap Maduro atas tuduhan keterlibatan dalam kartel narkoba. Maduro kini dilaporkan telah ditahan dan akan menghadapi proses peradilan di Amerika Serikat.






