Pergeseran peran manusia dari pengambil keputusan menjadi penerima keputusan di era kecerdasan buatan (AI) bukanlah sebuah peristiwa tunggal yang dapat ditunjuk pada kalender. Sebaliknya, fenomena ini terjadi secara bertahap, melalui serangkaian kebiasaan kecil yang terus-menerus mengikis otonomi manusia. Kita secara tidak sadar membiarkan sistem merekomendasikan, mesin memutuskan, dan algoritma memilihkan informasi yang dianggap paling relevan.
Transformasi ini tidak hadir dalam bentuk paksaan, melainkan melalui tawaran kemudahan dan efisiensi. Manusia merasa tetap berdaulat karena masih dihadapkan pada pilihan, padahal pilihan tersebut telah melalui proses penyaringan ketat oleh sistem. Kontrol tidak hilang seketika, melainkan diserahkan sedikit demi sedikit demi mengejar kecepatan dan kepraktisan.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Janji Efisiensi dan Koreksi Cara Berpikir
Kecerdasan buatan (AI) menawarkan janji rasional berupa kecepatan, akurasi, dan optimalisasi. Dalam narasi yang dibangun, manusia seringkali diposisikan sebagai entitas yang bermasalah: terlalu lambat, terlalu emosional, dan terlalu subjektif. Akibatnya, teknologi tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan mulai mengoreksi cara manusia berpikir dan bertindak. Standar ideal bergeser dari pertimbangan matang menjadi keputusan tercepat.
Namun, permasalahan utama bukan terletak pada kecanggihan AI itu sendiri, melainkan pada logika yang mendasarinya. AI tidak beroperasi dalam ruang hampa; ia dibangun dari data yang, menurut Mureks, tidak pernah netral. Data-data ini dikumpulkan, dipilih, dan diolah oleh institusi dengan kepentingan tertentu. Algoritma dilatih oleh perusahaan, diarahkan oleh tujuan ekonomi, dan dioptimalkan untuk keuntungan, namun hasilnya kerap disajikan seolah objektif, ilmiah, dan bebas nilai.
Pada titik ini, terjadi pemindahan kuasa yang seringkali luput dari kesadaran publik. Keputusan yang sebelumnya dapat diperdebatkan kini disajikan sebagai hasil kalkulasi matematis. Kritik seringkali dianggap tidak relevan karena “data berkata lain,” mengubah fungsi rasionalitas dari alat untuk mempertanyakan kekuasaan menjadi pembenaran atasnya.
Reduksi Nilai Manusia di Dunia Kerja dan Kreativitas
Dampak paling signifikan terasa di dunia kerja, di mana produktivitas menjadi ukuran utama nilai manusia. AI mempercepat proses dan memangkas waktu berpikir, menuntut manusia untuk menyesuaikan diri dengan ritme sistem. Mereka yang gagal mengikuti kecepatan ini kerap dicap tidak adaptif, padahal persoalan utamanya bukan pada individu, melainkan pada standar keberhargaan yang ditentukan oleh logika mesin.
Kreativitas juga mengalami reduksi, dinilai berdasarkan kecepatan produksi dan kemudahan replikasi. Proses panjang, keraguan, dan pencarian makna dianggap tidak efisien. Dalam sistem ini, manusia tidak kalah karena ketidakmampuan, melainkan karena aturan main yang diubah secara sepihak.
Ilusi Kebebasan Berpikir dan Otoritas Algoritma
Ketertinggalan manusia tidak hanya terbatas pada ranah ekonomi, tetapi juga merembes ke ranah pengetahuan. Algoritma kini memegang kendali dalam menentukan informasi apa yang muncul, opini mana yang mendapat sorotan, dan wacana mana yang tenggelam. Publik merasa bebas memilih, padahal pilihan mereka telah disaring secara ketat. Ruang berpikir menyempit tanpa disadari; apa yang sering muncul dianggap penting, sementara yang jarang terlihat dianggap tidak ada.
Fenomena ini mengubah kebebasan berpikir menjadi ilusi yang rapi. Manusia tidak lagi secara aktif menjelajahi gagasan, melainkan mengonsumsi apa yang dianggap relevan oleh sistem. Perdebatan publik pun tidak lagi ditentukan oleh kekuatan argumen, melainkan oleh visibilitas algoritmik.
Kekaburan Tanggung Jawab dan Melemahnya Etika
Masalah utama bukan karena AI lebih pintar dari manusia, melainkan karena manusia berhenti mempertanyakan otoritasnya. Rekomendasi mesin dipercaya melebihi pertimbangan moral, skor lebih dipercaya daripada pengalaman, dan prediksi lebih diyakini daripada empati. Ketika terjadi kesalahan, sulit untuk mencari siapa yang bertanggung jawab. Keputusan tidak lagi diambil oleh subjek manusia yang jelas, melainkan oleh sistem yang kompleks dan tak berwajah.
Kekuasaan menjadi kabur pada titik ini. Tidak ada pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban secara langsung. Kesalahan dianggap sebagai kegagalan sistem, bukan pilihan manusia. Akibatnya, etika melemah karena tidak ada subjek yang benar-benar bertanggung jawab.
Adaptasi yang Mengukuhkan Ketimpangan
Seringkali, kita dihibur dengan argumen bahwa manusia akan selalu beradaptasi, dan bahwa ini hanyalah fase awal revolusi teknologi. Namun, argumen ini mengabaikan satu hal krusial: adaptasi terhadap sistem yang tidak adil bukanlah kemajuan. Menyesuaikan diri tanpa ikut menentukan arah hanya akan mengukuhkan ketimpangan kuasa.
Sejarah telah membuktikan bahwa teknologi selalu berpihak pada mereka yang memiliki akses dan kendali. Jika manusia hanya berperan sebagai pengguna pasif, masa depan akan ditentukan oleh segelintir pihak yang menguasai sistem. Dalam kondisi ini, manusia tidak tertinggal karena kalah cerdas, melainkan karena kehilangan posisi tawar.
Mempertanyakan Kembali Nilai Kemanusiaan
Manusia yang mulai tertinggal bukanlah mereka yang kalah cepat dari mesin, melainkan mereka yang kehilangan ruang untuk menentukan nilai hidupnya sendiri. Ketika kecepatan dijadikan standar kebenaran, dan efisiensi dianggap lebih penting daripada keadilan, maka yang tertinggal adalah inti kemanusiaan: kemampuan untuk berpikir kritis, meragukan, dan menolak.
Di era AI, pertanyaan mendesak bukan lagi apakah mesin akan menggantikan manusia. Lebih dari itu, apakah manusia masih ingin memegang kendali atas masa depannya sendiri, atau rela menyerahkannya demi kenyamanan yang tampak rasional? Jika pilihan terus jatuh pada yang tercepat tanpa mempertanyakan arahnya, maka ketertinggalan ini bukan sekadar kecelakaan sejarah, melainkan pilihan kolektif yang dibuat secara sadar.
Referensi penulisan: kumparan.com






