Di tengah derasnya arus informasi politik yang kerap memicu ketegangan, banyak dari kita mungkin merasa hanya sekadar “ingin tahu”. Namun, praktisi self-healing Yuyun Wardhana mengingatkan, tubuh manusia memiliki cara tersendiri untuk merespons hiruk pikuk tersebut, bahkan ketika pikiran merasa biasa saja.
Yuyun, yang memiliki latar belakang sebagai wartawan foto untuk tabloid Detik—satu-satunya tabloid politik terkemuka beroplah setengah juta eksemplar yang dibreidel pada 21 Juni 1994—menekankan bahwa pengalamannya mendampingi banyak orang dalam proses self healing menunjukkan satu hal yang semakin jelas: “tubuh manusia jauh lebih sensitif daripada yang kita kira”. Sayangnya, kesadaran akan hal ini sering kali datang terlambat.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Ketika Tubuh Bereaksi, Meski Pikiran Merasa “Biasa Saja”
Banyak peserta training self healing terapi tapping private online yang didampingi Yuyun datang dengan keluhan fisik yang sering dianggap sepele, namun berulang. Keluhan seperti asam lambung naik, perut tidak nyaman, dada terasa penuh, kepala berat, hingga tidur tidak nyenyak kerap menjadi aduan. Saat ditanya, jawaban yang umum terdengar adalah telat makan, salah makanan, atau terlalu pedas dan asam.
Namun, Yuyun menjelaskan bahwa tidak semua keluhan fisik bermula dari fisik semata. Ia sering menegaskan dalam sesinya, “tubuh tidak peduli apakah kita menganggap sesuatu penting atau tidak. Selama emosi bergerak, tubuh akan merespons”. Fenomena ini, menurut Mureks, semakin relevan mengingat intensitas informasi yang kita konsumsi setiap hari.
Ketika seseorang terlalu sering membaca berita politik—terutama yang sarat konflik, ketegangan, dan ketidakpastian—pikiran mungkin berkata, “Saya hanya ingin tahu.” Namun, tubuh menangkapnya sebagai tekanan. Sistem saraf masuk ke mode siaga, napas memendek, otot mengencang, dan pencernaan melambat. Ini bukan sekadar teori, melainkan respons biologis yang nyata.
Yang menarik, banyak orang “tidak merasa sedang stres”. Mereka hanya merasakan “lelah”, “tidak enak badan”, atau “perut sering bermasalah”, tanpa menyadari akar emosionalnya.
Pencernaan: Cermin Emosi yang Paling Jujur
Dari sekian banyak organ, pencernaan adalah yang paling cepat “bicara” mengenai kondisi emosional. Dalam pendekatan self healing, lambung dan usus sering kali menjadi tempat emosi yang tidak sempat disadari dan dilepaskan. Ilmu kesehatan modern pun mengenal konsep “gut–brain axis”—jalur komunikasi dua arah antara otak dan usus. Emosi memengaruhi pencernaan, dan sebaliknya. Inilah sebabnya stres bisa langsung terasa di perut, bahkan sebelum disadari oleh pikiran rasional.
Yuyun melihat pola ini berulang kali. Asam lambung bukan hanya soal makan, dan maag bukan sekadar soal telat makan. Dalam banyak kasus, ada “ketegangan emosi yang dipendam terlalu lama” yang menjadi pemicunya. Ia menyayangkan, asam lambung sering dianggap murni masalah makanan, dan perut tidak nyaman dianggap urusan jadwal makan. Padahal, bisa jadi tubuh sedang kelelahan menyimpan emosi—cemas, marah, frustrasi—yang setiap hari dipicu oleh informasi yang kita konsumsi.
Kesadaran bahwa tubuh dan emosi saling terhubung masih jarang. Kita cenderung cepat menyalahkan tubuh, tetapi jarang bertanya: “apa yang sedang saya simpan di pikiran dan perasaan saya belakangan ini?”
Berita politik memiliki daya tarik emosional yang kuat. Ia menyentuh rasa keadilan, rasa aman, dan masa depan. Kita ikut merasakan, tetapi sering kali tidak punya ruang untuk menyalurkan rasa itu. Emosi tersebut tidak dibicarakan, tidak dilepaskan, dan tidak diakui.
Dalam dunia trauma dan stres, dikenal ungkapan “the body keeps the score”. Dalam bahasa yang lebih sederhana, Yuyun menjelaskan, “emosi yang tidak disadari akan disimpan oleh tubuh”. Dan pencernaan, menurutnya, sering menjadi tempat penyimpanan emosi tersebut.
Belajar Hadir di Dalam Tubuh Sendiri
Yuyun menegaskan bahwa tulisannya ini bukan untuk mengajak orang menutup diri dari realitas. Kita tetap perlu tahu apa yang terjadi di sekitar kita. Namun, ia percaya bahwa “tidak semua informasi perlu dikonsumsi tanpa batas”.
Dalam self healing, kesadaran adalah kunci. Menyadari kapan informasi berubah menjadi tekanan. Menyadari kapan tubuh mulai lelah. Menyadari kapan kita perlu berhenti sejenak. Kadang yang dibutuhkan tubuh bukan obat atau suplemen, melainkan “ruang untuk kembali merasa aman”.
Berita politik mungkin hanya kita baca lewat layar, tetapi dampaknya bisa terasa nyata di tubuh—terutama di perut. Tubuh selalu jujur. Ia memberi sinyal ketika sesuatu terlalu berat untuk terus ditahan. Bagi Yuyun, self healing bukan tentang menghindari dunia, tetapi tentang “belajar hadir di dalam tubuh sendiri”. Mendengarkan sinyal-sinyal halus yang selama ini kita abaikan.
Sebab, kesehatan bukan hanya tentang apa yang kita makan, melainkan juga tentang “apa yang setiap hari kita izinkan masuk ke pikiran dan emosi kita”.






