Di tengah derasnya arus informasi dan interaksi di ruang publik digital, batas antara kritik dan saran kerap menjadi kabur. Fenomena ini, terutama terlihat di platform media sosial, menunjukkan bahwa penerimaan sebuah pendapat seringkali tidak hanya bergantung pada niat, melainkan juga pada pilihan kata dan cara penyampaiannya.
Dalam keseharian, istilah “kritik” dan “saran” sering digunakan secara bergantian, seolah memiliki makna dan dampak yang serupa. Padahal, menurut Mureks, perbedaan esensial keduanya terletak pada bagaimana bahasa digunakan untuk membingkai pesan tersebut. Sebuah masukan yang dimaksudkan untuk membangun bisa saja ditolak mentah-mentah, atau sebaliknya, diterima dengan lapang dada, tergantung pada kemasan bahasanya.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Secara umum, kritik dipahami sebagai penilaian terhadap kesalahan atau kekurangan, sementara saran lebih diasosiasikan dengan upaya membantu dan memperbaiki. Namun, garis pemisah ini tidak selalu tegas. Kritik yang disampaikan dengan nada merendahkan, pilihan kata yang tajam, atau tanpa konteks yang memadai, seringkali terasa seperti serangan personal. Sebaliknya, kritik yang dibungkus dengan bahasa empatik dan berorientasi solusi justru dapat diterima sebagai saran yang konstruktif. Di sinilah peran krusial bahasa sebagai penentu makna dan rasa menjadi sangat menonjol.
Kompleksitas ini semakin terasa di ruang publik daring, khususnya media sosial. Banyak pendapat dilontarkan atas nama “kritik”, namun seringkali kehilangan etika berbahasa. Kalimat-kalimat yang singkat, frontal, dan minim penjelasan sangat mudah disalahartikan, bahkan ketika niat awalnya positif. Akibatnya, diskusi yang seharusnya produktif seringkali bergeser menjadi perdebatan emosional, di mana substansi justru tenggelam oleh konflik personal.
Bahasa, pada hakikatnya, bukan sekadar alat untuk menyampaikan gagasan, melainkan juga cerminan sikap dan kedewasaan seseorang dalam berdialog. Mengkritik tidak berarti mengabaikan perasaan orang lain, sebagaimana memberi saran tidak cukup hanya dengan niat baik tanpa dibarengi cara yang tepat. Pilihan kata, struktur kalimat, dan konteks penyampaian menjadi penentu apakah sebuah pesan akan membuka ruang dialog atau justru menutupnya rapat-rapat.
Pada akhirnya, perbedaan antara kritik dan saran memang tipis, namun dampaknya bisa sangat signifikan. Di tengah kebebasan berpendapat yang semakin luas, kemampuan menggunakan bahasa secara bijak dan bertanggung jawab menjadi sebuah kebutuhan mendesak, bukan lagi sekadar pilihan. Sebab, kritik yang baik bukan hanya tentang apa yang disampaikan, melainkan bagaimana bahasa digunakan untuk menjaga martabat, membangun pemahaman, dan mendorong perubahan yang lebih sehat di ruang publik digital.






