Menteri Agama Nasaruddin Umar mengumumkan bahwa Kementerian Agama (Kemenag) telah menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp 138 miliar. Bantuan ini ditujukan bagi masyarakat yang terdampak banjir dan longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Pernyataan tersebut disampaikan Nasaruddin dalam acara Tasyakuran Hari Amal Bakti Nasional ke-80 Kementerian Agama RI yang berlangsung di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, Senin (5/1/2026). Menurutnya, bantuan ini tidak hanya bersifat material, tetapi juga mencakup pendampingan sosial dan penguatan spiritual bagi para korban.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
“Bantuan ini merupakan wujud kehadiran negara dan bentuk tanggung jawab kemanusiaan Kementerian Agama terhadap saudara-saudara kita yang sedang diuji oleh bencana,” kata Nasaruddin.
Nasaruddin menjelaskan, dana Rp 138 miliar tersebut disalurkan melalui berbagai skema layanan Kemenag. Ini meliputi bantuan kebutuhan dasar, dukungan untuk rumah ibadah dan lembaga keagamaan yang terdampak, hingga pemulihan sarana pendidikan keagamaan seperti madrasah dan pondok pesantren. Selain itu, Kemenag juga memberikan pendampingan psikososial dan layanan keagamaan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengakui adanya tantangan dalam penyaluran bantuan awal. “Pengadaan-pengadaan seperti alat-alat tulis-menulis yang sedang kita garap karena tidak bisa kita habiskan untuk sesuatu dalam waktu dekat ini. Selain proses keuangan, juga ada proses di masyarakat karena tanahnya masih basah, masih banjir, kemudian juga jembatannya belum tersambung sebagian,” jelasnya.
Namun, kondisi kini telah membaik. “Tapi Alhamdulillah, sekarang ini rata-rata jembatan sudah tersambung dan demikian sudah ada waktu dan kesempatan untuk melanjutkan renovasi-renovasi rumah-rumah ibadah, madrasah, dan pondok pesantren yang merupakan tanggung jawab kita,” tambah Nasaruddin.
Ia menekankan bahwa bencana tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak signifikan pada kondisi sosial dan spiritual masyarakat. Oleh karena itu, peran Kemenag menjadi krusial dalam memastikan masyarakat tetap memiliki kekuatan mental dan keimanan di tengah situasi sulit.
“Kami menyadari bahwa bencana bukan hanya soal kerusakan bangunan. Yang lebih berat adalah bagaimana memulihkan harapan, ketenangan batin, dan semangat hidup masyarakat. Di sinilah peran pelayanan keagamaan harus hadir,” ujarnya.
Nasaruddin juga mengapresiasi partisipasi seluruh jajaran Kemenag di daerah yang bergerak cepat merespons kondisi darurat. Sinergi antara pusat dan daerah dinilai menjadi faktor penting dalam memastikan bantuan tepat sasaran dan sesuai kebutuhan. “Kementerian Agama tidak mungkin bekerja sendiri. Kami bergerak bersama pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat setempat agar bantuan ini benar-benar dirasakan manfaatnya,” tuturnya.
Selain bantuan langsung, Nasaruddin menyinggung kontribusi Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama yang menggelar aksi donor darah dalam rangkaian peringatan HAB ke-80. Dari kegiatan tersebut, hampir 300 kantong darah berhasil dikumpulkan dan disiapkan untuk membantu rumah sakit, termasuk di wilayah terdampak bencana di Sumatera. “Ini adalah contoh nyata bahwa kepedulian sosial harus diwujudkan dalam aksi, bukan sekadar wacana. Setetes darah yang disumbangkan hari ini bisa menjadi harapan hidup bagi sesama,” kata Umar.
Mureks mencatat bahwa penyaluran bantuan kemanusiaan ini sejalan dengan tema Hari Amal Bakti ke-80 Kemenag, yakni “Umat Rukun, Indonesia Damai dan Maju.” Menurut Nasaruddin, kerukunan dan solidaritas sosial merupakan fondasi utama dalam menghadapi situasi krisis dan bencana. “Kerukunan bukan hanya soal hidup berdampingan, tetapi juga tentang saling menolong ketika ada saudara kita yang tertimpa musibah. Dari situlah Indonesia yang damai dan maju dapat kita bangun,” tegasnya.
Nasaruddin memastikan, Kemenag akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap penyaluran bantuan di wilayah Sumatera, serta membuka ruang koordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan pascabencana.






