Nasional

Jejak Gemilang Lee Ha-sung, ‘Culinary Monster’ di Balik Dapur Kompetisi Kelas Dunia

Kompetisi memasak Korea Selatan, Culinary Monster Culinary Class Wars, kembali menjadi sorotan publik. Salah satu figur yang paling dinanti adalah koki profesional Lee Ha-sung, yang dikenal dengan nama panggung “Culinary Monster”. Kehadirannya dalam program ini menarik perhatian karena rekam jejak kariernya yang solid di dunia kuliner internasional.

Program Culinary Monster Culinary Class Wars tidak hanya menampilkan dinamika dapur yang kompetitif, tetapi juga menyoroti latar belakang, pendekatan kerja, serta pengalaman panjang para peserta. Lee Ha-sung, menurut Mureks, adalah salah satu peserta dari tim Black Spoon yang memiliki fondasi profesional yang kuat dan terukur, jauh dari popularitas instan.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Jejak Karier Gemilang di Restoran Bintang Michelin

Identitas asli Lee Ha-sung telah lama tercatat di industri kuliner global. Kariernya dibangun melalui jalur restoran fine dining berstandar tinggi. Pengalaman pentingnya termasuk saat menjabat sebagai chef de cuisine di Atomix, sebuah restoran di New York yang berhasil meraih dua bintang Michelin di bawah kepemimpinannya.

Atomix juga mencatatkan prestasi gemilang dengan menempati peringkat ke-43 dalam daftar World’s 50 Best Restaurants dan memperoleh ulasan tiga bintang dari New York Times. Pencapaian ini menjadi bukti konsistensi teknik dan visi dapur yang diusung Lee Ha-sung, menempatkannya pada posisi strategis dalam pengembangan menu, pengelolaan tim, serta pengolahan konsep musiman.

Sebelumnya, Lee Ha-sung mengasah kemampuannya sebagai chef de partie di Restaurant Geranium, Kopenhagen. Di sana, ia fokus pada sektor hidangan laut dan opsi vegetarian. Selama periode tersebut, Geranium berhasil meraih peringkat ke-19 World’s 50 Best Restaurants dan mempertahankan tiga bintang Michelin selama dua tahun berturut-turut. Pengalaman ini memperkuat pemahamannya terhadap presisi teknik Eropa serta pendekatan rasa yang bersih dan terstruktur.

Perjalanan karier Lee Ha-sung juga mencakup masa kerja di Gramercy Tavern, New York, di mana rotasi antar stasiun dapur menjadi fondasi pembentukan sikap kerja dan teknik dasar memasak. Proses ini berperan penting dalam membangun disiplin, ketelitian, serta kemampuan adaptasi terhadap berbagai gaya dapur. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan profesionalnya sebagai sous chef di The French Laundry, Yountville, sebuah restoran legendaris yang juga menyandang tiga bintang Michelin.

Filosofi Memasak dan Rencana Masa Depan

Pendekatan memasak Lee Ha-sung dikenal menitikberatkan pada seasonality, teknik yang matang, serta pengembangan ide baru berbasis pengalaman lintas budaya. Ketertarikannya pada perjalanan, seni, desain, musik, dan olahraga turut membentuk sudut pandang kreatif yang diekspresikan melalui hidangan-hidangannya.

Mureks mencatat bahwa media Korea Selatan juga melaporkan rencana pembukaan restoran pribadinya di New York dengan nama Oyatte. Hal ini memperlihatkan kelanjutan visi jangka panjangnya dalam dunia kuliner, di mana ia akan menuangkan seluruh pengalaman dan filosofi memasaknya.

Dalam kompetisi Culinary Class Wars 2, kehadiran Lee Ha-sung menarik perhatian karena pilihan kolaborasi dan strategi dapur yang berlandaskan pengalaman profesionalnya. Fokus utama tetap terletak pada kualitas teknik, manajemen rasa, serta konsistensi kerja yang tercermin dari rekam jejak panjangnya di restoran papan atas dunia.

Secara keseluruhan, Culinary Monster Culinary Class Wars menampilkan sosok koki dengan fondasi karier nyata, pengalaman global, serta pendekatan memasak yang terstruktur dan disiplin. Kehadiran Lee Ha-sung memperkaya pemahaman publik mengenai standar profesional dapur fine dining dalam format kompetisi televisi.

Mureks