Masjid Al-Huda di Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, kini rata dengan tanah. Ironisnya, kondisi ini terjadi setelah janji manis donatur untuk renovasi besar tak kunjung terealisasi, membuat warga setempat harus berjuang membangun kembali dari nol.
Masjid yang menjadi satu-satunya di Pedukuhan Gari dan pusat kegiatan enam RT dengan sekitar 800 jiwa ini, terakhir dibangun pada 1984. “Satu-satunya masjid di (Pedukuhan) Gari. Bahkan satu kalurahan saja, kalau ada event-event butuh tempat di masjid yang dipakai masjid ini,” ujar Rewang Dwi Atmojo (72), salah satu sesepuh Gari, Selasa (6/1). Sejak dibangun, masjid ini belum pernah direnovasi besar-besaran.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Rencana renovasi besar muncul setelah dua orang, berinisial AS dari Pedukuhan Gatak dan H dari Kapanewon Ngawen, datang pada November 2025. Keduanya menawarkan bantuan mencarikan donatur dari yayasan yang disebut-sebut mampu membiayai 99 persen pembangunan. “Perobohan masjid itu menurut mereka informasi yang kita terima itu sebagai syarat dari yayasan yang mereka rangkul agar dana dari yayasan bisa turun. Itu syaratnya masjid harus dirobohkan,” jelas Tholabi, warga Gari lainnya.
Warga menyambut antusias tawaran tersebut, bahkan seluruh kampung ikut membongkar masjid hingga rata dengan tanah. Namun, setelah pembongkaran, komunikasi dengan H mulai tersendat dan janji donasi tak kunjung tiba. “Dari yayasan yang dicatut tidak tahu masalah untuk merobohkan masjid ini,” ungkap Tholabi, setelah warga mencoba mengonfirmasi langsung. Budi Antoro, Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Huda, menambahkan bahwa yayasan yang disebut H belum benar-benar menyetujui donasi.
Meski “di-ghosting” oleh donatur yang menjanjikan, semangat warga Gari tak padam. Pantauan Mureks pada Selasa (6/1) menunjukkan, sejumlah warga terlihat bergotong royong membangun talud sebagai fondasi awal. “Ini (anggaran) dari swadaya masyarakat dan beberapa donatur-donatur yang datang atau melalui transfer,” kata Tholabi. Hanya mustaka, kusen, daun pintu, dan sebagian wuwung seng yang tersisa dari bangunan lama.
Pembangunan kembali masjid ini diperkirakan menelan anggaran sekitar Rp 1,8 miliar. “Memang kami biayanya cukup tinggi. Sebenarnya kami akan memulai pembangunan setelah Lebaran. Kami akan membangun ukuran besar,” kata Budi. Dengan dana swadaya dan donasi yang terkumpul, warga bertekad melanjutkan pembangunan sedikit demi sedikit. “Bangunan sudah rata dengan tanah. Hari ini kami memulai pondasi talud untuk memulai pekerjaan sedikit demi sedikit. Dana yang sudah ada kita gunakan untuk bergerak,” tambahnya.
Meskipun merasa ditipu, warga Gari memilih untuk tidak menempuh jalur hukum. “Kami tidak akan menuntut secara hukum biarkan Allah sendiri yang menghukum beliau,” pungkas Budi Antoro.






