Deru mesin motor bersahut-sahutan di luar Stasiun Cikarang, Jalan Yos Sudarso, Karang Asih, Cikarang Utara. Pemandangan ini bukan lagi didominasi oleh lalu lalang pembeli pasar atau aktivitas perdagangan ruko seperti beberapa tahun silam, melainkan barisan kendaraan roda dua yang kini memenuhi sepanjang kawasan Pasar Lama Cikarang.
Pantauan Mureks di lokasi pada Jumat (09/01/2026) menunjukkan, ruas jalan yang dahulu dipenuhi ruko dan lapak pedagang kini berubah wajah menjadi hamparan parkiran informal. Motor-motor berjejer rapat, sebagian besar tanpa atap pelindung, sebuah kontras mencolok dengan kawasan sekitar Stasiun Bekasi yang mayoritas parkirannya sudah tertata dan beratap.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Dampak pada Ekonomi Lokal dan Pilihan Praktis Pengguna
Perubahan fungsi lahan ini meninggalkan jejak yang tak kecil pada geliat ekonomi lokal. Sejumlah ruko tampak tertutup rapat, catnya memudar, dan etalase kosong tanpa aktivitas. Bangunan yang semula disewakan untuk berdagang kini kehilangan peminat, tersisih oleh kebutuhan praktis para pengguna commuter line yang mengutamakan kecepatan dan kemudahan akses.
Wati, salah satu pengguna jasa parkir, mengungkapkan alasannya memilih parkir di luar stasiun. “Parkir di luar lebih cepat,” ujarnya singkat. Ia mengaku tidak berlangganan dan hanya memilih parkir di luar stasiun karena kepraktisan. “Buat hari ini saja. Enggak ribet,” katanya sebelum bergegas.
Pilihan serupa rupanya menjadi alasan utama menjamurnya parkiran di luar area stasiun. Padatnya parkir resmi, antrean keluar-masuk, hingga kebutuhan mengejar waktu keberangkatan kereta membuat parkiran informal menjadi alternatif favorit, meskipun minim fasilitas dan perlindungan.
Tarif dan Kapasitas Parkir Informal
Ari, salah satu juru parkir di kawasan tersebut, menjelaskan bahwa tarif parkir relatif sama dengan area dalam stasiun. “Harian Rp 6.000, kalau nginep Rp 10.000,” jelasnya. Ia juga menyebut belum ada rencana kenaikan tarif di beberapa titik parkir luar stasiun.
Menurut Ari, faktor kedekatan dan kepercayaan juga berperan penting. “Karena sudah kenal, jadi menitip di sini. Mulut ke mulut saja. Kalau di dalam kan parkiran padat dan mereka harus berusaha sendiri. Kalau di sini asal ada tiket kita yang keluarkan. Cepat dan tidak capek buat pelanggan,” paparnya. Satu titik parkir yang dikelolanya, kapasitasnya bisa mencapai sekitar 150 unit motor. Lahan itu, kata dia, bukan miliknya. “Saya cuma kerja. Ada bosnya,” ujarnya sambil tersenyum.
Persimpangan Kebutuhan dan Tata Kota
Fenomena parkiran luar stasiun ini perlahan membentuk ekosistem sendiri: cepat, akrab, namun nyaris tanpa perlindungan. Motor-motor terpapar panas dan hujan, sementara kawasan sekitar kian kehilangan fungsi awalnya sebagai pusat ekonomi kecil. Mureks mencatat bahwa geliat mobilitas penumpang yang terus meningkat telah mengubah wajah Pasar Lama Cikarang, seolah terjebak di persimpangan antara kebutuhan parkir yang mendesak dan tata kota yang kian tergerus. Ruko-ruko sunyi menjadi saksi bisu ketika ruang usaha kalah oleh kebutuhan menitipkan kendaraan yang cepat, praktis, dan apa adanya.






