Dosen Program Pascasarjana, Asep Abdurrohman, dalam tulisannya pada Jumat, 09 Januari 2026, menyoroti peristiwa Isra Mikraj sebagai ‘guru besar’ yang tak ternilai bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Menurutnya, peristiwa agung yang dialami Nabi Muhammad SAW 14 abad silam ini bukan sekadar mukjizat keagamaan, melainkan juga sebuah demonstrasi awal tentang potensi dan tantangan ilmu pengetahuan.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Latar Belakang Perjalanan Spiritual Nabi
Asep Abdurrohman menjelaskan, Isra Mikraj merujuk pada perjalanan Nabi Muhammad SAW yang diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian naik ke Sidratil Muntaha untuk menerima perintah salat. Peristiwa ini terjadi pada masa-masa sulit bagi Nabi.
Kondisi psikologis Nabi Muhammad SAW saat itu terguncang hebat. Ia baru saja menghadapi pemboikotan selama tiga tahun, kehilangan orang-orang tercinta seperti Sayyidah Khadijah dan Abu Thalib, serta penolakan saat meminta suaka ke Thaif.
Dalam situasi penuh kesedihan itu, Allah SWT memperjalankan Nabi sebagai bentuk dukungan moril dan pengobat lara. Al-Qur’an Surah Al-Isra’ ayat 1 membuka peristiwa ini dengan redaksi “Subhaana.”
Imam Al-Qurtubi, dalam tafsirnya al-Jami’li Ahkamil Qur’an, mengartikan kata tersebut untuk menunjukkan “Lita’ajub,” yang berarti untuk mengagetkan atau menimbulkan kekaguman.
Perjalanan yang Melampaui Nalar Kaum Quraisy
Ketika Rasulullah kembali dan menceritakan Isra Mikraj kepada para sahabat dan kaum kafir Quraisy, reaksi yang muncul adalah kekagetan luar biasa. Jarak antara Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang sekitar 1500 KM, jika ditempuh dengan jalan kaki pada masa itu, membutuhkan waktu paling tidak satu bulan.
Namun, perjalanan ini hanya memakan waktu singkat, tidak lebih dari satu malam. Hal ini sungguh di luar nalar orang-orang kafir Quraisy.
Akibatnya, Nabi Muhammad SAW diejek dan dihina, bahkan dituduh mengalami delusi atau gila. Mereka mempertanyakan bagaimana mungkin perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratil Muntaha, dapat terjadi dalam waktu sesingkat itu.
Asep Abdurrohman menekankan, peristiwa ini memang tidak harus dinalar dengan akal jernih semata, melainkan harus diterima dengan keyakinan yang lurus. Meskipun demikian, dari sudut pandang keilmuan, peristiwa ini memberikan inspirasi dan motivasi akan pentingnya penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
Isra Mikraj: Demonstrasi Kecepatan dan Tantangan IPTEK
IPTEK yang didemonstrasikan Allah SWT pada waktu itu sangat luar biasa. Nabi Muhammad SAW naik buraq yang didampingi Malaikat Jibril dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratil Muntaha, semuanya dalam waktu kurang dari satu malam.
Jika dianalisis, buraq digambarkan sebagai makhluk putih bercahaya, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari kuda, dengan kecepatan “secepat kilat.”
Asep Abdurrohman mengilustrasikan, jika kecepatan kilat disamakan dengan kecepatan cahaya, yakni 300.000 KM/detik, maka jarak 1500 KM dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hanya membutuhkan waktu sekitar 0,005 detik. Sebagai perbandingan, kecepatan pesawat modern sekitar 800 KM/jam akan membutuhkan waktu kurang dari dua jam untuk jarak yang sama.
Kondisi ini semakin menantang IPTEK, terutama ketika dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW melakukan Isra Mikraj dengan menggunakan fisik dan ruhnya. Dalam kaidah ilmu fisika, ketika sebuah benda bergerak dengan kecepatan cahaya, benda itu akan hancur lebur tidak tersisa. Mureks mencatat bahwa paradoks inilah yang mendorong manusia untuk terus mendalami IPTEK.
Konsep Teleportasi dan Masa Depan Teknologi
Tidak heran jika di kemudian hari muncul istilah teleportasi, yaitu memindahkan sebuah benda dari tempat A ke tempat B dalam waktu yang singkat. Di era digital, konsep ini dapat dicontohkan dengan pengiriman buku elektronik (e-book) dari satu ponsel ke grup WhatsApp sebuah lembaga pendidikan.
Waktu yang dibutuhkan sangat bergantung pada ukuran e-book, di mana belasan halaman mungkin hanya memakan waktu lima hingga sepuluh detik. Para ilmuwan, menurut Asep Abdurrohman, tidak akan pernah puas dengan capaian saat ini. Mereka akan terus mendalami dan mengembangkan teknologi untuk menemukan terobosan berikutnya, terinspirasi oleh peristiwa-peristiwa yang melampaui batas pemahaman manusia.






