Nasional

Mengejar Gaji Dua Digit: Antara Ambisi Generasi Z, Tekanan Sosial, dan Kesiapan Diri yang Sering Terlupakan

Gaji dua digit, atau penghasilan belasan juta rupiah ke atas, telah lama menjadi simbol keberhasilan dan pencapaian karier. Angka ini seringkali diidentikkan dengan status “sudah sampai”, seolah semua kerja keras, begadang, dan keraguan selama ini akhirnya terbayar lunas. Fenomena ini tak hanya menjadi obrolan santai, tetapi juga target personal yang ditulis diam-diam, bahkan kerap menghiasi lini masa media sosial.

Namun, di balik gemerlap angka tersebut, jarang sekali kita mempertanyakan makna sebenarnya dari target finansial ini. Bagi banyak individu, khususnya Generasi Z, keinginan untuk mencapai gaji dua digit di usia muda sering kali dipandang dari dua sudut ekstrem: sebagai tanda ambisi dan daya juang yang patut dipuji, atau justru dicurigai sebagai bentuk ketidaksabaran dan obsesi materi semata.

Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id

Realitas di Balik Ambisi Generasi Z

Dwi Arifin, seorang profesional keuangan yang kini bertransformasi menjadi Business Growth Partner bagi startup dan UMKM, menyoroti bahwa target gaji dua digit bagi Gen Z bukan sekadar keinginan semata. Ia lahir dari realitas yang sangat nyata, seperti biaya hidup yang terus merangkak naik, ketidakpastian ekonomi global, serta keinginan kuat untuk mencapai stabilitas finansial dan rasa aman, bukan hanya sekadar terlihat sukses di mata publik.

Pertanyaan krusialnya, menurut Arifin, bukanlah apakah target tersebut salah, melainkan dari mana dorongan itu berasal dan apakah kesiapan diri seseorang telah tumbuh seiring dengan target yang ditetapkan. Di era digital saat ini, informasi mengenai individu yang “sudah sampai” pada gaji dua digit di usia muda begitu mudah diakses. Namun, kita jarang melihat cerita panjang di baliknya, seperti tahun-tahun belajar, kegagalan, atau perjuangan bertahan di fase yang tidak terlihat. Yang seringkali muncul hanyalah hasil akhir, dipadatkan dalam satu angka yang memukau.

Ketika Angka Menjadi Tekanan

Tanpa disadari, angka gaji dua digit dapat bergeser dari tujuan menjadi pembanding, dari motivasi menjadi tekanan. Kondisi ini seringkali memicu perasaan tertinggal, meskipun perjalanan karier seseorang baru saja dimulai. Refleksi jujur diperlukan: apakah keinginan mencapai gaji dua digit ini muncul dari kebutuhan hidup yang realistis, atau justru dari rasa takut tertinggal dari orang lain?

Masalah seringkali muncul ketika target finansial melaju lebih cepat daripada kapasitas diri. Gaji memang bisa naik, tetapi jika keterampilan dan kompetensi belum matang, tekanan akan datang dari arah yang tak terduga. Tanggung jawab membesar, ekspektasi meningkat, sementara kepercayaan diri belum sepenuhnya terbentuk. Dari luar, seseorang mungkin terlihat “naik kelas”, namun dari dalam, ia merasa terus dikejar oleh tuntutan yang belum mampu diimbangi.

Catatan Mureks menunjukkan, riset dalam Academy of Management Perspectives mengindikasikan bahwa individu cenderung mengovervalue indikator kesuksesan eksternal, seperti gaji dan jabatan. Sebaliknya, mereka kerap meng-underestimate faktor internal, seperti kesiapan psikologis, energi, dan kapasitas belajar. Akibatnya, banyak pencapaian yang tampak maju secara angka, namun rapuh secara keberlanjutan.

Membangun Fondasi untuk Keberlanjutan

Pada titik ini, target gaji dua digit perlu direframe. Bukan sebagai garis akhir yang harus dicapai secepatnya, melainkan sebagai konsekuensi dari proses pengembangan diri yang sehat dan berkelanjutan. Pertanyaan pun bergeser dari “kapan aku sampai dua digit?” menjadi “apa yang perlu aku bangun agar gaji dua digit itu layak dan berkelanjutan?”

Ambisi tidak perlu dimatikan, namun perlu diarahkan dengan bijak. Gaji dua digit yang datang terlalu cepat tanpa fondasi yang kuat seringkali menciptakan kecemasan baru. Kekhawatiran tidak mampu mempertahankan posisi, merasa tidak cukup pintar, atau takut suatu hari tersingkir, dapat menjadi beban mental yang berat. Stres tidak hilang, hanya berganti bentuk.

Bayangkan skenario yang berbeda: gaji dua digit yang datang seiring dengan kapasitas diri yang mumpuni. Peran yang lebih besar diiringi kejelasan kontribusi. Penghasilan yang naik sejalan dengan rasa percaya diri yang nyata. Dalam kondisi ini, dua digit bukan sekadar angka di slip gaji, melainkan rasa aman bahwa seseorang benar-benar tahu apa yang ia lakukan dan mengapa ia dibayar sebesar itu.

Karier yang sehat memahami bahwa setiap fase memiliki fokusnya sendiri. Ada fase belajar, di mana kesalahan adalah investasi berharga. Ada fase eksplorasi, di mana arah belum sepenuhnya jelas. Dan ada fase akselerasi, di mana kapasitas dan peluang mulai bertemu. Memaksa fase akselerasi terlalu dini seringkali membuat perjalanan terasa berat dan singkat.

Bagi Generasi Z, tantangannya bukan sekadar mencapai gaji dua digit pertama, tetapi membangun diri yang mampu hidup nyaman dan produktif di angka tersebut. Ini berarti memahami keterampilan apa yang sedang dibangun, nilai apa yang ingin dibawa, dan batas energi apa yang perlu dijaga. Sebelum menetapkan target finansial, ada baiknya bertanya dengan jujur: keterampilan apa yang membuatku layak dibayar dua digit? Masalah apa yang bisa aku selesaikan dengan konsisten? Dan apakah aku siap secara mental dengan tuntutan yang menyertainya?

Pada akhirnya, gaji dua digit pertama bukanlah tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan tentang siapa yang paling siap ketika sampai. Pencapaian finansial yang sehat bukanlah yang membuat kita terlihat berhasil di mata orang lain, melainkan yang membuat hidup terasa lebih stabil, bermakna, dan berkelanjutan.

Mengejar gaji dua digit boleh, bermimpi besar sah. Namun, memastikan diri tumbuh seiring target itulah yang akan membuat mimpi itu benar-benar menjadi milikmu.

Mureks