Keuangan

Industri Migas Hadapi Dilema Lapangan Tua: Pengeboran Ulang atau Penutupan Sumur Tak Ekonomis?

Sejumlah besar lapangan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia kini memasuki fase penuaan, ditandai dengan penurunan tingkat produksi yang signifikan. Kondisi ini menempatkan industri di persimpangan jalan, dihadapkan pada pilihan krusial: apakah akan mempertahankan operasional lapangan dengan perawatan intensif, melakukan pengeboran sumur baru di area sekitar, atau justru menutup sumur-sumur yang sudah tidak lagi memberikan keuntungan ekonomis.

Direktur Eksekutif Indonesian Petroleum Association (IPA), Marjolijn Wajong, menegaskan bahwa keputusan terkait penanganan sumur tua tidak dapat diseragamkan. Menurutnya, setiap langkah harus didasarkan pada evaluasi mendalam terhadap kondisi teknis dan keekonomian spesifik dari masing-masing lapangan.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Pertimbangan Teknis dan Keekonomian Lapangan Migas

“Tergantung daerahnya. Kalau masih punya potensi eksplorasi, jelas eksplorasi karena hasilnya besar. Kalau tidak, harus maintenance. Tapi kita harus hitung keekonomiannya,” ujar Marjolijn dalam acara “Naratama by Amir Sodikin (AMR): Masihkah Migas Dibutuhkan di Era Renewable Energy?” pada Rabu (7/1/2025).

Marjolijn menjelaskan, perkembangan teknologi memang menawarkan solusi untuk meningkatkan produksi di lapangan tua, termasuk melalui metode pengeboran lanjutan atau enhanced oil recovery (EOR). Namun, Mureks mencatat bahwa implementasi teknologi canggih ini memerlukan investasi biaya yang besar, sehingga harus dipastikan sebanding dengan potensi tambahan produksi yang akan dihasilkan.

“Kalau masih ekonomis, kita usahakan. Kalau sudah tidak ekonomis, kadang kita tutup (suntik mati),” ungkapnya.

Penutupan atau shutdown sumur migas, lanjut Marjolijn, bukan sekadar keputusan bisnis. Aspek keselamatan dan lingkungan menjadi pertimbangan utama. Lapangan yang terus dioperasikan meskipun sudah tidak layak justru berpotensi menimbulkan risiko serius.

Alternatif Pengeboran Sumur Baru dan Tantangan Investasi

Selain opsi perawatan dan penutupan, industri juga mempertimbangkan pengeboran sumur baru di area sekitar sebagai alternatif yang lebih efisien. Metode ini dinilai dapat memangkas biaya operasional dibandingkan terus mempertahankan sumur tua yang produktivitasnya terus merosot.

“Bisa juga caranya dengan mengebor di sebelahnya yang lebih murah daripada mengurus yang tua,” kata Marjolijn, yang memiliki pengalaman langsung sebagai production engineer dalam mengelola lapangan migas.

Meski demikian, Marjolijn menekankan pentingnya pengelolaan lapangan migas tua yang dilakukan secara cermat dan berbasis data. Ia juga menyoroti tantangan besar bagi pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif. Iklim investasi yang baik diharapkan mampu mendukung adopsi teknologi modern, sekaligus memberikan kepastian dan daya tarik ekonomi yang kuat bagi para investor.

“Teknologi berkembang dari tahun ke tahun. Untungnya dunia makin global, sehingga teknik-teknik baru di tempat lain mestinya bisa kita ambil dengan tidak terlalu lama. Hanya masalahnya kembali kepada keekonomian,” pungkasnya.

Referensi penulisan: money.kompas.com

Mureks