Jakarta, CNN Indonesia — Indonesia bersama 20 negara Arab dan mayoritas Muslim lainnya, termasuk Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) serta Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), secara tegas menolak keterkaitan antara pengakuan Israel terhadap Somaliland dengan potensi pengusiran paksa warga Palestina dari Jalur Gaza.
Sikap kolektif ini merupakan pernyataan bersama yang dirilis Kementerian Luar Negeri RI di media sosial pada Rabu (31/12), menyusul deklarasi Israel yang mengakui kemerdekaan Somaliland pekan lalu.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Puluhan negara yang tergabung dalam penolakan ini meliputi Arab Saudi, Aljazair, Djibouti, Gambia, Indonesia, Iran, Irak, Kuwait, Komoro, Libya, Maladewa, Mesir, Nigeria, Oman, Pakistan, Palestina, Qatar, Somalia, Sudan, Turki, dan Yaman.
“Penolakan penuh terhadap segala potensi keterkaitan antara tindakan tersebut dengan segala upaya untuk secara paksa mengusir rakyat Palestina dari tanah mereka, yang secara tegas ditolak dalam bentuk apa pun sebagai prinsip dasar,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut.
Israel selama ini dituding berupaya memindahkan warga Jalur Gaza dari tanah air mereka dengan dalih rekonstruksi, sebuah tindakan yang telah dikecam oleh komunitas internasional.
Dampak Serius bagi Perdamaian Regional
Dalam pernyataan bersama tersebut, Mureks mencatat bahwa puluhan negara mayoritas Muslim ini juga mewanti-wanti bahwa pengakuan Israel terhadap Somaliland dapat memiliki dampak serius terhadap perdamaian dan keamanan di kawasan Tanduk Afrika serta Laut Merah. Jika dibiarkan, situasi ini berpotensi merembet ke perdamaian dan keamanan internasional secara lebih luas.
Selain itu, negara-negara tersebut menegaskan kembali dukungan penuh mereka untuk Somalia. Mereka juga menyatakan menolak setiap tindakan yang merusak persatuan, integritas wilayah, atau kedaulatan negara di Afrika tersebut.
“Pengakuan sebagian wilayah negara merupakan preseden serius dan mengancam perdamaian dan keamanan internasional, serta melanggar prinsip-prinsip utama hukum internasional dan Piagam PBB,” lanjut pernyataan bersama itu, menggarisbawahi kekhawatiran akan preseden buruk yang tercipta.
Deklarasi Israel dan Latar Belakang Somaliland
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Somaliland pada pekan lalu. Deklarasi Israel menyebutkan, “Dengan mengambil langkah ini, Israel menegaskan bahwa pengakuan ini membangun hubungan diplomatik penuh antara Israel dan Republik Somaliland.”
Israel mengklaim bahwa hubungan diplomatik tersebut akan berkontribusi terhadap kemajuan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran di Tanduk Afrika, Timur Tengah, dan sekitarnya. Pernyataan ini sontak memicu kecaman dari banyak negara, termasuk Somalia.
Somaliland sendiri merupakan daerah semi-gurun yang membentang di sepanjang garis pantai Laut Merah Somalia. Wilayah ini memiliki luas sekitar 177.000 kilometer persegi dan dihuni oleh sekitar 5,7 juta jiwa.
Secara historis, Somaliland adalah bekas protektorat Inggris yang sempat merdeka selama lima hari pada tahun 1960 sebelum akhirnya bersatu dengan Somalia. Namun, akibat gejolak politik dan situasi keamanan yang tidak stabil, wilayah ini memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1990.






