Majalah International Living asal Amerika Serikat baru saja merilis “Annual Global Retirement Index 2026”, sebuah daftar negara-negara terbaik untuk menetap setelah pensiun. Hasilnya menunjukkan Yunani menduduki peringkat teratas sebagai negara terbaik bagi para pensiunan di tahun 2026. Menariknya, Indonesia belum masuk dalam daftar negara pilihan utama, sementara dua negara tetangga di Asia Tenggara, Thailand dan Malaysia, berhasil menembus 10 besar.
Indeks tersebut disusun berdasarkan beberapa kriteria penting, meliputi biaya hidup, layanan kesehatan, ketersediaan perumahan, kemudahan visa, iklim, hingga adaptasi sosial. Sepuluh negara terfavorit untuk pensiun secara berurutan adalah Yunani, Panama, Kosta Rika, Portugal, Meksiko, Italia, Prancis, Spanyol, Thailand, dan Malaysia.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Yunani terpilih sebagai posisi puncak karena menawarkan ribuan pulau indah dan iklim hangat yang nyaman. Selain itu, negara ini dianggap memiliki segala yang dibutuhkan untuk tinggal jangka panjang, ramah pensiunan, terjangkau untuk residensi, serta gaya hidup yang kaya dalam berbagai aspek yang menjadi idaman para pensiunan.
Di antara negara-negara Asia, Thailand dan Malaysia berhasil mengungguli Indonesia dalam daftar ini. Thailand dinilai menawarkan biaya hidup yang sangat terjangkau, suasana nyaman, serta jauh dari kebisingan dan birokrasi. Hidup sehari-hari di Thailand terasa sederhana dan praktis, sehingga biaya hidup pensiunan dapat disesuaikan dengan anggaran yang dimiliki. Sementara itu, Malaysia menawarkan kualitas hidup tinggi dengan biaya yang tetap terjangkau, didukung infrastruktur yang baik, layanan kesehatan berkelas dunia dengan biaya rendah, serta visa jangka panjang yang fleksibel.
Mengapa Indonesia Belum Jadi Pilihan Utama?
Menurut analisis Syarif Yunus, Dosen Unindra dan Ketua Dewas DPLK Sinarmas AM, Indonesia belum menjadi negara pilihan utama untuk masa pensiun yang nyaman bukan karena satu faktor tunggal, melainkan kombinasi dari isu struktural, ekonomi, dan layanan publik. Indonesia dianggap belum ideal karena perlindungan sosial hari tua masih sangat terbatas. Uang pensiun yang diterima seringkali dinilai kecil dan tidak cukup untuk menutupi biaya hidup serta kesehatan. Bagi sebagian besar masyarakat, pensiun masih dimaknai sebagai upaya untuk bertahan hidup, bukan untuk menikmati hidup.
Selain itu, biaya kesehatan bagi pensiunan di Indonesia tergolong tinggi. Perawatan kesehatan dinilai mahal dan fasilitasnya belum sepenuhnya ramah lansia-pensiunan. Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara-negara pilihan pensiunan nyaman, di mana biaya kesehatan terjangkau dan mudah diakses. Mureks mencatat bahwa sistem pensiun yang ada di Indonesia juga belum inklusif, dengan program pensiun yang masih didominasi oleh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pekerja formal. Akibatnya, banyak orang pensiun tanpa pendapatan tetap, yang memaksa mereka untuk tetap bekerja di usia tua atau bergantung pada keluarga. Ruang publik yang kurang aman juga membuat lansia-pensiunan menjadi terisolasi atau tergantung pada orang lain.
Literasi keuangan pensiun di Indonesia juga masih dianggap rendah. Banyak individu menunda persiapan pensiun dan saat tiba masa pensiun, mereka masih mengandalkan anak, atau aset yang tidak likuid sehingga harus terus bekerja hingga usia lanjut. Budaya “keluarga penopang” pun mulai rapuh akibat urbanisasi, pergeseran cara pandang keluarga kecil, dan tingginya biaya hidup. Berbeda dengan negara-negara yang nyaman untuk pensiunan, di mana prinsipnya pensiunan sudah siap secara finansial karena telah menabung untuk dana pensiun selagi bekerja. Layanan kesehatan pensiun yang baik, kota yang ramah lansia, dan keberadaan komunitas pensiunan juga menjadi faktor pendukung.
Sejatinya, Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara yang nyaman untuk pensiunan, berkat biaya hidup yang relatif terjangkau, iklim hangat, budaya sosial tolong-menolong yang masih kuat, serta destinasi wisata yang indah. Namun, isu finansial selalu menjadi masalah utama bagi pensiunan di Indonesia, terutama akibat rendahnya kepesertaan dana pensiun. Dengan demikian, Indonesia belum menjadi negara pensiun yang nyaman bukan karena masyarakatnya tidak bekerja keras, melainkan karena sistem hari tua yang belum melindungi semua orang. Masih banyak pensiunan yang mengalami masalah keuangan di hari tua atau harus bergantung pada anak-anaknya. Oleh karena itu, perencanaan dana pensiun menjadi sangat penting untuk menjamin hari tua yang lebih baik.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah Anda menyiapkan masa pensiun yang nyaman?






