Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali tahun 2026 dengan gemilang, mencetak rekor penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high) baru pada Jumat (2/1/2026). Indeks melesat 101,19 poin atau menguat 0,17% ke level 8.748,13.
Pencapaian ini melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada 8 Desember 2025 di level 8.710,69. Pada perdagangan hari ini, sebanyak 479 saham terpantau menguat, sementara 200 saham melemah, dan 131 saham tidak bergerak.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Nilai transaksi di pasar modal pagi ini mencapai Rp 22,27 triliun, melibatkan 51,15 miliar saham dalam 3,13 juta kali transaksi. Mureks mencatat bahwa kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) kini mencapai Rp 16.043 triliun.
Optimisme Menteri Keuangan untuk IHSG 10.000
Optimisme terhadap kinerja pasar modal juga disuarakan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Pada Rabu (31/12/2025), Purbaya menyatakan keyakinannya bahwa IHSG akan menyentuh level 10.000 pada tahun 2026.
Purbaya secara lugas mengatakan, “10.000 tahun depan? lebih lah,” saat ditanya mengenai proyeksi IHSG. Keyakinan tersebut didasarkan pada kebijakan pemerintah yang semakin sinkron serta didorong oleh kondisi ekonomi Indonesia yang terus membaik.
Perjalanan IHSG Sepanjang 2025 dan Sentimen Pasar 2026
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Selasa (30/12/2025), IHSG berada di level 8.646,94. Indeks saat itu mengalami kenaikan tipis 2,68 poin atau menguat 0,03%.
Nilai transaksi pada hari tersebut mencapai Rp 20,61 triliun, dengan 39,54 miliar saham diperdagangkan dalam 2,6 juta kali transaksi. Sebanyak 346 saham menguat dan 146 saham tidak bergerak.
Perjalanan IHSG sepanjang tahun 2025 sendiri diwarnai dinamika naik-turun. Meskipun sempat tertekan tajam di awal tahun, IHSG berhasil bangkit dan mencatatkan rekor All Time High (ATH) sebanyak 24 kali hingga akhir tahun 2025. Salah satu rekor tertinggi sebelumnya adalah 8.711 pada 8 Desember 2025, dengan nilai kapitalisasi pasar sebesar Rp 16.004 triliun.
Mureks memantau bahwa perdagangan pertama di tahun 2026 ini akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri. Investor akan menantikan rilis PMI Manufaktur Indonesia oleh S&P Global untuk periode Desember 2025. Selain itu, hasil risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Federal Reserve juga akan dicermati. Risalah ini berpotensi mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah dan pasar saham domestik.






