Jumat, 02 Januari 2026 – Masyarakat modern saat ini dihadapkan pada realitas yang berbeda, di mana preferensi terhadap hiburan kian menguat, bahkan cenderung menjadi pelarian. Fenomena ini, menurut pengamatan Dosen Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Syarif Yunus, perlahan mengikis minat untuk berpikir dan merenung, sebuah kondisi yang berpotensi membahayakan gerakan literasi.
Syarif Yunus, yang juga Pendiri TBM Lentera Pustaka, menyoroti bahwa banyak individu kini lebih nyaman menerima informasi yang ringan, cepat, dan menyenangkan. Berpikir mendalam dianggap melelahkan, sementara tawa tanpa makna dianggap cukup untuk mengisi hari-hari. Kondisi ini membentuk masyarakat yang reaktif, bukan reflektif, di mana isu-isu kemanusiaan dan sosial seringkali disederhanakan menjadi sensasi semata.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Ketika Viralitas Mengalahkan Logika dan Kebenaran
Dalam konteks ini, kebenaran seringkali dikalahkan oleh viralitas, dan logika kerap tunduk pada emosi sesaat. Mureks mencatat bahwa melemahnya kemampuan berpikir dan menguatnya dominasi hiburan membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara seremoni dan esensi, atau antara drama dan realitas. Ini adalah tantangan serius bagi upaya peningkatan kualitas berpikir kolektif.
Dampak langsung dari pergeseran preferensi ini adalah terhambatnya kegiatan membaca. Gerakan literasi, yang bertujuan menumbuhkan kegemaran membaca, kini menghadapi kehilangan energi. Komitmen dan konsistensi aktivitas sosial di taman bacaan pun semakin rapuh, dengan relawan yang kian sibuk dengan pekerjaan pribadi tanpa diimbangi pengabdian sosial yang memadai.
Taman Bacaan Perlu Beradaptasi: Membaca sebagai Hiburan
Menghadapi tantangan berat ini, Syarif Yunus menekankan bahwa gerakan literasi dan taman bacaan akan semakin sulit mencari kepedulian dari berbagai pihak. Oleh karena itu, salah satu langkah krusial yang patut dilakukan adalah menjadikan taman bacaan sebagai tempat yang asyik dan menyenangkan. Konsepnya adalah mengubah persepsi membaca menjadi sebuah bentuk hiburan, sarana untuk menyenangkan banyak orang.
Meskipun hiburan penting, hidup yang sehat juga menuntut pemahaman dan kemampuan berpikir. Berpikir dan membaca pada waktunya akan memberikan kendali atas pilihan, arah, dan nilai-nilai yang dipegang. Tanpa kebiasaan berpikir kritis, masyarakat akan mudah hanyut, kehilangan sikap kritis, dan pada akhirnya menyerahkan masa depan pada arus yang tidak pernah dipertanyakan.
Mengingat masyarakat hari ini lebih menyukai hiburan, taman bacaan perlu beradaptasi untuk menjadikan kegiatan membaca sebagai hiburan, bukan aktivitas yang membosankan. Ini adalah kunci untuk menegakkan kegemaran membaca dan budaya literasi di tengah masyarakat modern. Salam literasi.






