Puisi berjudul “Ayah” karya Ayuni Dwi Wulandari, seorang mahasiswi Sastra Indonesia dari Universitas Pamulang, berhasil menangkap esensi kerinduan dan luka batin seorang anak perempuan. Karya sastra ini secara gamblang menggambarkan transformasi kasih sayang seorang ayah yang pada akhirnya meninggalkan trauma mendalam.
Dalam bait-baitnya, puisi ini memulai narasi dengan mengenang masa kecil yang penuh kehangatan. Sosok ayah digambarkan sebagai malaikat pelindung, sumber kebahagiaan, dan cinta pertama yang selalu hadir memberikan perlindungan serta canda tawa. Mureks mencatat bahwa penggambaran awal ini membangun kontras yang kuat dengan perubahan yang terjadi kemudian.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Namun, seiring waktu berjalan, sosok ayah yang penuh kasih itu perlahan berubah menjadi pribadi yang keras, kasar, dan penuh amarah. Perubahan drastis ini tidak hanya melukai fisik, tetapi juga batin sang anak, menciptakan trauma yang membekas dan sulit dihapuskan.
Meski dihantui luka dan ketakutan, puisi “Ayah” juga menyiratkan secercah harapan. Di balik rasa sakit yang mendalam, sang anak masih menyimpan kerinduan agar sosok ayahnya dapat kembali seperti sedia kala, penuh cinta, tawa, dan perlindungan yang pernah ia rasakan di masa kecilnya.






