Gedung Putih secara terbuka menyatakan tidak mengesampingkan penggunaan kekuatan militer dalam upaya mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark di kawasan Arktik, pada Selasa (6/1/2026).
Pernyataan keras ini muncul di tengah ketegangan diplomatik, meskipun pemerintah Greenland dan Denmark telah menyerukan pertemuan serta dialog segera dengan Amerika Serikat. Mereka bertujuan meluruskan apa yang disebut sebagai “kesalahpahaman” terkait ambisi Washington.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Ambisi AS Terhadap Greenland
Ketertarikan Presiden AS Donald Trump untuk melebarkan wilayah Amerika Serikat ke Greenland telah berlangsung sejak tahun lalu. Trump menegaskan bahwa lokasi Greenland sangat strategis dan kaya akan sumber daya mineral.
Menurut Mureks, survei pada tahun 2023 yang dikutip Reuters menunjukkan bahwa 25 dari 34 mineral yang didata oleh Uni Eropa ditemukan di Greenland. Mineral-mineral tersebut meliputi logam tanah jarang, grafit, tembaga, nikel, seng, emas, intan, titanium, hingga uranium.
Kekhawatiran Geopolitik
Namun, ambisi AS terhadap Greenland tidak hanya seputar kekayaan mineral. Trump juga menginginkan Greenland karena kekhawatiran terhadap kehadiran Rusia dan China di wilayah tersebut.
“Jika Anda melihat Greenland, Anda melihat ke atas dan ke bawah pantai, Anda akan melihat kapal-kapal Rusia dan China di mana-mana,” ujar Trump, seperti dilansir kantor berita AFP.






