Keuangan

Ferry Salanto: Hunian Berbasis Gaya Hidup Sehat Bakal Jadi Primadona Pasar Properti 2026

JAKARTA – Pasar properti nasional diproyeksikan akan mengalami perubahan signifikan dalam preferensi konsumen pada tahun 2026. Hunian yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, melainkan juga mendukung gaya hidup sehat dan kualitas hidup secara keseluruhan, diperkirakan akan semakin diminati, khususnya di kota-kota besar.

Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, menjelaskan bahwa tren ini selaras dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya keseimbangan hidup, kemudahan akses, serta kenyamanan lingkungan tempat tinggal. Menurut Ferry, pergeseran ini menandai evolusi kebutuhan konsumen properti di masa mendatang.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Ferry mencontohkan situasi di Surabaya, di mana apartemen yang banyak diminati adalah yang terintegrasi dengan pengembangan komersial. “Saya ambil contoh di Surabaya, dimana apartemen yang banyak diminati itu adalah apartemen yang satu kesatuan dengan komersial development. Jadi yang lebih apartemen yang di dalam bagian dari mixed use development,” ujar Ferry dalam sebuah sesi virtual pada Rabu, 7 Januari 2026.

Daya Tarik Konsep Hunian Terintegrasi

Konsep mixed-use, seperti yang dijelaskan Ferry, mengacu pada apartemen yang terintegrasi dengan berbagai fungsi lain, termasuk pusat perbelanjaan, perkantoran, atau hotel. Konsep ini dianggap sangat menguntungkan karena memberikan kemudahan akses bagi penghuni dalam menjalankan aktivitas sehari-hari mereka.

“Kalau kita lihat di Surabaya itu produk-produk seperti itu memang cukup diminati karena memberikan kemudian akses untuk mereka sehari-hari di situ. Kemudian juga memang konsep ruang terbuka hijau itu juga sebenarnya good to have,” tambahnya.

Selain integrasi fungsi, keberadaan ruang terbuka hijau dan fasilitas yang menunjang gaya hidup sehat juga menjadi nilai tambah signifikan. Namun, Ferry mengakui bahwa implementasi konsep hijau di area perkotaan seringkali terhambat oleh keterbatasan lahan. Menurut pantauan Mureks, hunian yang dapat mengakomodasi kebutuhan gaya hidup modern, mulai dari mobilitas yang mudah, fasilitas olahraga, hingga area komunal, cenderung lebih menarik bagi konsumen dibandingkan hunian konvensional.

Keterbatasan Lahan dan Segmen Pasar

Meskipun demikian, jumlah hunian yang sepenuhnya mendukung gaya hidup modern masih sangat terbatas. Faktor utama penyebabnya adalah ketersediaan lahan yang semakin sempit di kota-kota besar.

“Tapi kan memang ini kan terbatas ya kalau di kota besar itu karena lahannya juga nggak bisa begitu, dan terbatas. Tapi memang, produk-produk hunian yang mendukung gaya hidup itu memang lebih diminati,” ungkap Ferry.

Dari sudut pandang riset pasar, hunian yang mengintegrasikan konsep gaya hidup sehat tidak hanya memiliki daya tarik yang lebih kuat, tetapi juga potensi ketahanan nilai yang lebih baik. Namun, konsep ini dianggap lebih sesuai untuk menyasar segmen pasar menengah ke atas.

“Hunian modern yang mengusung konsep green living, kualitas hidup, dan gaya hidup sehat itu ideal. Tapi penerapannya lebih cocok untuk produk menengah atas,” jelas Ferry.

Ferry juga menyoroti bahwa struktur daya beli masyarakat Indonesia masih didominasi oleh segmen menengah ke bawah. Oleh karena itu, tidak semua konsep hunian dengan fasilitas lengkap dapat diterapkan secara luas di pasar.

“Karena kan kalau beli unit apartemen itu kan yang dibeli kan nggak cuma unit aja, tapi juga fasilitas pendukungnya di situ. Itu termasuk komponen biaya yang harus dimasukkan ke dalam harga dari produk unit yang mereka beli,” tegasnya, menekankan bahwa fasilitas pendukung menjadi bagian integral dari harga jual unit apartemen.

Referensi penulisan: money.kompas.com

Mureks