Tren

Enzo Maresca: “Banyak Orang Membuat Ini 48 Jam Terburuk Saya” – Chelsea Resmi Pecat Pelatih

Stamford Bridge diguncang kabar mengejutkan pada awal tahun baru, Jumat (02/01/2026). Enzo Maresca dipastikan tidak lagi menjabat sebagai pelatih kepala Chelsea, sebuah keputusan drastis yang diambil hanya beberapa jam sebelum laga krusial menghadapi Manchester City di lanjutan Liga Inggris.

Kabar perpisahan mendadak ini pertama kali dikonfirmasi oleh pakar transfer Eropa, Fabrizio Romano. Tak lama berselang, Chelsea Football Club merilis pernyataan resmi yang memvalidasi informasi tersebut.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Chelsea Apresiasi Kontribusi Maresca

“Chelsea Football Club dan Pelatih Kepala Enzo Maresca telah berpisah,” demikian bunyi pengumuman resmi klub yang dirilis hari ini. Manajemen The Blues tetap menyampaikan apresiasi atas kontribusi Maresca selama masa kepemimpinannya.

Terutama, klub menyoroti kesuksesan Maresca dalam meraih trofi UEFA Conference League dan Piala Dunia Antarklub. “Prestasi tersebut akan tetap menjadi bagian penting dari sejarah terkini Klub, dan kami berterima kasih atas kontribusinya kepada Klub,” lanjut pernyataan resmi tersebut.

Perubahan ini, menurut pihak klub, dinilai sebagai langkah terbaik demi mengejar target di empat kompetisi tersisa. Kedua pihak sepakat bahwa tim membutuhkan momentum baru untuk kembali ke jalur yang benar setelah situasi yang memanas dalam kurun waktu 48 jam terakhir. Manajemen Chelsea kini dipaksa bergerak cepat untuk menunjuk pengganti sebelum pertandingan besar dimulai.

Pemicu Retaknya Hubungan: Hasil Buruk dan Komentar Kontroversial

Prahara di balik pemecatan Maresca sebenarnya bukan terjadi dalam semalam, melainkan akumulasi dari ketegangan yang berlangsung sepanjang Desember 2025. Chelsea tercatat hanya mampu meraih satu kemenangan dalam tujuh laga terakhir Premier League.

Namun, hasil buruk di lapangan bukanlah satu-satunya penyebab utama perpecahan. Komentar kontroversial Maresca usai kemenangan melawan Everton menjadi pemicu yang mempercepat keretakan hubungannya dengan klub. Kala itu, Maresca melontarkan pernyataan yang mengejutkan banyak pihak internal.

Maresca mengatakan: “Banyak orang telah membuat ini menjadi 48 jam terburuk saya sejak bergabung dengan klub.” Pernyataan tersebut secara terbuka dianggap menyerang hierarki klub di hadapan media, padahal tim baru saja meraih kemenangan yang seharusnya menjadi momen positif.

Protes Sunyi dan Intervensi Manajemen

Di balik komentar pedas tersebut, Mureks mencatat bahwa tersimpan masalah yang jauh lebih kompleks. Maresca dikabarkan merasa tidak senang dengan berbagai intervensi yang terjadi, termasuk dorongan untuk memainkan pemain tertentu.

Ketidakbahagiaan itu kemudian tumpah dalam bentuk protes simbolis yang sunyi. Sang pelatih belakangan ini dilaporkan semakin sering menghindari pemakaian baju olahraga resmi klub (tracksuit). Ia lebih memilih mengenakan pakaian pribadinya sendiri dalam berbagai kesempatan, menjadi sinyal kuat bahwa hatinya sudah tidak sejalan dengan identitas klub.

Selain itu, friksi juga terjadi terkait aktivitas di luar lapangan. Maresca sempat ingin menerbitkan buku, namun langkah tersebut diblokir oleh pihak manajemen. Ia bahkan sempat berbicara di acara Il Festival dello Sport di Italia tanpa izin resmi. Semua tindakan ini memperlebar jurang pemisah antara dirinya dan para pemilik Chelsea.

Akhir Tragis Sang Juara Dunia di Tengah Krisis Jadwal

Perpisahan pahit ini terasa sangat ironis jika melihat pencapaian Maresca sebelumnya. Pelatih asal Italia itu sejatinya memiliki rekam jejak yang cukup mentereng selama menangani The Blues. Ia sukses membawa Chelsea kembali ke kompetisi Liga Champions musim lalu, sebuah prestasi yang secara internal dianggap sebagai pencapaian terpentingnya.

Tidak berhenti di sana, Maresca juga mempersembahkan gelar Europa Conference League. Puncaknya, ia membawa Chelsea mengalahkan PSG untuk meraih gelar juara dunia antarklub. Sayangnya, deretan trofi tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan posisinya. Hubungan yang sudah retak akibat masalah non-teknis ternyata lebih dominan daripada prestasi di lapangan.

Kini, Chelsea harus menanggung konsekuensi berat dari keputusan ini. Mereka ditinggalkan sang nahkoda tepat saat kapal sedang memasuki badai jadwal pertandingan yang sangat padat. Asisten manajer, Willy Caballero, sebelumnya sempat berdalih bahwa Maresca sedang “tidak enak badan”. Namun, fakta sebenarnya adalah sang pelatih sedang menimbang langkah untuk pergi.

Padahal, The Blues dihadapkan pada jadwal neraka di bulan Januari 2026. Setelah melawan Manchester City, mereka masih harus bertemu Arsenal dan Napoli di kompetisi berbeda. Klub kini berpacu dengan waktu untuk mencari solusi terbaik. Chelsea harus segera bangkit dari kekacauan ini jika ingin menyelamatkan sisa musim mereka.

Mureks