Keuangan

Ekonom CELIOS Peringatkan: Pemulihan Daya Beli Masyarakat Belum Fundamental Meski Indikator Konsumsi Naik

JAKARTA – Sejumlah indikator daya beli masyarakat menunjukkan perbaikan pada akhir tahun 2025. Namun, perbaikan tersebut dinilai belum mencerminkan pemulihan daya beli secara fundamental, menurut ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda.

Nailul Huda mencatat, daya beli masyarakat membaik pada Kuartal IV 2025. Hal ini terlihat dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) November 2025 yang mencapai 124, meningkat dari 121,2 pada Oktober 2025.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada November 2025 juga tercatat 53, naik dari 51,2 pada bulan sebelumnya.

Kepada tim redaksi Mureks pada Senin (5/1/2026), Huda menyatakan, “Kondisi daya beli masyarakat jika dilihat dari dua bulan terakhir, memang ada perbaikan terutama dari sisi ekspektasi konsumsi.”

Ia menjelaskan bahwa perbaikan daya beli ini bersifat siklikal, dipicu oleh momentum akhir tahun seperti libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang mendorong peningkatan konsumsi.

Kenaikan IKK pada November, menurut Mureks, dipicu oleh tambahan pendapatan berupa bonus akhir tahun. Sementara itu, kenaikan PMI Manufaktur Indonesia berkaitan dengan persiapan pembelian barang untuk kebutuhan tahun 2026.

Huda menegaskan, “Pertumbuhan konsumsi rumah tangga di Kuartal III juga masih menunjukkan perlambatan. Jadi secara data, memang terjadi perbaikan, namun sifatnya siklikal, bukan fundamental.”

Di sisi fundamental, tekanan masih membayangi. Huda menyoroti pertumbuhan upah riil yang belum mampu mengejar laju pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

Kondisi ini berisiko menekan daya beli masyarakat ke depan, terutama karena upah pekerja Indonesia dinilai belum sanggup menutup kenaikan inflasi, khususnya inflasi pangan bergejolak (volatile food).

Menurut Huda, “Pertumbuhan upah riil yang terkontraksi menurut World Bank, memang berbanding terbalik dengan klaim pemerintah bahwa fondasi ekonomi kita kuat dengan pertumbuhan ekonomi kita di angka 5 persenan.”

Tekanan tersebut memicu fenomena ‘makan tabungan’, di mana masyarakat terpaksa menguras simpanan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat, sementara pendapatan tidak bertambah signifikan.

Penghasilan yang tidak mencukupi kebutuhan hidup juga mendorong kehati-hatian dalam mengambil kredit. Hal ini tercermin dari pertumbuhan kredit yang hanya mencapai 7,74 persen secara tahunan pada November 2025.

Huda menambahkan, “Permasalahan ini sudah terlihat dalam setahun ke belakang ketika perekonomian lesu, daya beli melemah, yang membuat orang cenderung berpikir berkali-kali untuk berhutang. Undisbursed loans yang tinggi menjadi tanda lemahnya permintaan kredit.”

Mureks