Warga Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, kini terpaksa melaksanakan salat Jumat di musala. Kondisi ini terjadi setelah Masjid Al Huda, satu-satunya masjid di pedukuhan tersebut, dirobohkan dengan janji akan dibangun ulang oleh seorang donatur yang kemudian menghilang tanpa kabar.
Jumatan di Musala Darurat
Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Huda, Budi Antoro, mengonfirmasi situasi ini pada Rabu (7/1). Ia menjelaskan bahwa saat ini kegiatan ibadah Jumat dipusatkan di Musala Karim Al Gari.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
“Saat ini jumatan ada di musala. Salat wajib kami sebarkan ke beberapa musala RT dan ada musala di Pasar Argowijil,” ujar Budi.
Untuk menampung jemaah yang berjumlah ratusan, Musala Karim Al Gari telah diperluas. Penambahan teras di halaman parkir dilakukan dengan memasang galvalum. “Kami pasang galvalum kemudian ketika Jumatan kita tutup jalan,” imbuh Budi, seperti pantauan Mureks.
Kapasitas dan Pentingnya Masjid
Pedukuhan Gari dihuni oleh sekitar 350 kepala keluarga dengan total 800-an hingga 860-an jiwa. Meski demikian, Budi memastikan musala tersebut cukup menampung jemaah salat Jumat.
“Mencukupi karena Jumat itu warga kami tidak semua di rumah ada yang bekerja dan sebagainya. Jadi di tempatnya bekerja ya 200-an 250-an jemaah untuk salat Jumat di musala,” bebernya.
Senada dengan Budi, sesepuh Pedukuhan Gari, Rewang Dwi Atmojo (72 tahun), juga membenarkan perpindahan lokasi salat Jumat. “Pindah ke Musala Karim Al Gari untuk menampung jumatan satu kampung,” kata Rewang yang ditemui pada Selasa (6/1).
Masjid Al Huda bukan hanya satu-satunya masjid di pedukuhan, tetapi juga memiliki peran penting sebagai pusat kegiatan desa. “Bahkan satu kalurahan saja kalau ada event-event butuh tempat di masjid yang dipakai masjid ini,” tambah Dwi, menyoroti fungsi vital masjid yang kini telah tiada.






