Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membeberkan detail penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, termasuk menyebut rumah tempat Maduro ditangkap menyerupai benteng. Dalam wawancara dengan “Fox & Friends Weekend”, Trump menjelaskan operasi “sangat kompleks” yang dilakukan pasukan khusus AS untuk meringkus Maduro.
Trump mengatakan Maduro ditangkap di sebuah rumah yang “sangat dijaga ketat” dan “lebih mirip benteng daripada rumah biasa.” Rumah tersebut dilengkapi pintu baja dan memiliki “ruang aman” dengan seluruh dinding terbuat dari baja solid.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Namun, Maduro tidak berhasil masuk ke ruang aman tersebut. “Dia mencoba masuk ke dalamnya, tapi dia diserang begitu cepat sehingga dia tidak berhasil masuk ke sana,” kata Trump, dikutip dari Foxnews.
Mantan Presiden AS itu menambahkan, “Kami sudah siap. Kami memiliki, kamu tahu, pemotong baja besar dan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menembus baja itu. Tapi kami tidak membutuhkannya. Dia tidak sampai ke area itu di rumah.”
Trump memantau setiap aspek operasi dari kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, bersama para jenderal. Ia menyebutkan bahwa rencana awal penangkapan sempat tertunda empat hari karena menunggu kondisi cuaca yang tepat.
“Kami menunggu empat hari. Kami akan melakukannya empat hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dua hari yang lalu. Dan tiba-tiba kondisi memungkinkan, dan kami berkata, ‘Lakukan,'” ujarnya.
Seorang pejabat AS yang diberi pengarahan tentang masalah tersebut mengonfirmasi bahwa Pasukan Delta Angkatan Darat AS yang melakukan penangkapan terhadap Maduro. Sementara itu, CIA memberikan informasi intelijen untuk membantu melacak lokasi Maduro.
Mureks mencatat bahwa perencanaan militer yang matang menjadi kunci keberhasilan operasi ini. “Semua berjalan dengan tepat, semua yang mereka latih. Mereka sebenarnya membangun sebuah rumah yang identik dengan yang mereka masuki, lengkap dengan brankas-brankas dan baja di mana-mana,” jelas Trump mengenai persiapan militer tersebut.
Trump meyakini tidak ada pasukan AS yang tewas dalam operasi tersebut. Ia menyebut ada beberapa orang terluka, tetapi mereka seharusnya dalam kondisi cukup baik.
Lebih lanjut, Trump juga menceritakan perjalanan Maduro dan istrinya. Keduanya dibawa dengan helikopter ke USS Iwo Jima, kemudian diterbangkan ke New York untuk menghadapi dakwaan atas tuduhan konspirasi terorisme narkoba.
Ketika ditanya tentang masa depan Venezuela dengan Maduro yang tidak lagi berkuasa, Trump menyatakan pihaknya tengah mengambil keputusan untuk hal tersebut. “Kami tidak bisa mengambil risiko membiarkan orang lain mengambil alih dan melanjutkan apa yang dia tinggalkan. Jadi kami sedang mengambil keputusan itu sekarang,” kata Trump.
“Kami akan sangat terlibat dalam hal ini, dan kami ingin memberikan kebebasan bagi rakyat. Kami ingin, Anda tahu, memiliki hubungan yang baik. Saya pikir rakyat Venezuela sangat, sangat bahagia karena mereka mencintai Amerika Serikat. Anda tahu, mereka telah dipimpin oleh sebuah diktator atau bahkan lebih buruk,” tambahnya.






