Internasional

Donald Trump Umumkan Perusahaan AS Akan Garap Cadangan Minyak Venezuela Usai Penangkapan Maduro

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terang-terangan menyatakan akan mengizinkan perusahaan-perusahaan minyak AS untuk mengelola cadangan minyak mentah raksasa Venezuela. Pengumuman ini disampaikan menyusul operasi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Sabtu dini hari.

Dalam konferensi pers di Florida pada Minggu (4/1/2026), Trump menyebut perusahaan energi terbesar Amerika siap menanamkan investasi miliaran dolar. Dana tersebut akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur migas Venezuela yang selama ini terbengkalai.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

“Kami akan mengirim perusahaan minyak terbesar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, masuk ke Venezuela, menginvestasikan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah, dan mulai menghasilkan uang bagi negara tersebut,” ujar Trump, mengutip laporan AFP.

Meski demikian, Trump menegaskan bahwa embargo terhadap seluruh minyak Venezuela tetap diberlakukan penuh.

“Embargo atas seluruh minyak Venezuela tetap berlaku penuh,” lanjutnya.

Sebelumnya, militer AS melancarkan serangkaian serangan udara ke ibu kota Caracas pada Sabtu dini hari. Dalam operasi tersebut, Maduro dan istrinya ditangkap dan diterbangkan ke New York, di mana keduanya menghadapi dakwaan terkait perdagangan narkoba dan senjata.

Washington telah menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Venezuela sejak 2017, disusul sanksi sektor minyak dua tahun kemudian. Sanksi ini menjadi bagian dari tekanan AS terhadap rezim Maduro.

Saat ini, produksi minyak Venezuela hanya sekitar kurang dari 1 juta barel per hari, menurut data OPEC. Sebagian besar minyak tersebut dijual di pasar gelap dengan potongan harga besar.

Trump menuduh pemerintah Venezuela menggunakan pendapatan minyak untuk mendanai kejahatan lintas negara. Ia mengklaim Caracas membiayai terorisme narkoba, perdagangan manusia, pembunuhan, dan penculikan dengan uang minyak.

Pada awal masa jabatan keduanya di tahun 2025, Trump mencabut berbagai izin operasi perusahaan migas multinasional di Venezuela. Namun, perusahaan AS Chevron memperoleh pengecualian.

Chevron saat ini mengoperasikan empat ladang minyak di Venezuela bekerja sama dengan perusahaan negara PDVSA dan afiliasinya. Selain itu, AS juga menerapkan blokade total terhadap kapal tanker yang masuk dan keluar dari Venezuela sebagai bagian dari tekanan ekonomi.

Menurut data International Energy Agency (IEA) 2023, Venezuela diketahui memiliki sekitar 17% cadangan minyak dunia. Namun, produksinya merosot tajam akibat bertahun-tahun salah kelola dan korupsi.

Minyak Venezuela juga tergolong berkualitas lebih rendah dan sebagian besar diolah menjadi solar serta produk turunan seperti aspal, bukan bensin. Amerika Serikat sendiri memiliki kilang di wilayah Teluk Meksiko yang dirancang khusus untuk mengolah jenis minyak tersebut.

Mureks mencatat bahwa analis energi Stephen Schork dari Schork Group menyatakan ketergantungan energi AS terhadap Venezuela saat ini relatif kecil.

“Amerika Serikat baik-baik saja tanpa minyak Venezuela,” kata Schork kepada AFP bulan lalu, seraya menilai faktor politik lebih dominan dalam kebijakan Washington terhadap Caracas.

Mureks