JAKARTA, SENIN (29/12/2025) – Pasar beras global pada tahun 2025 menunjukkan dinamika yang berbeda signifikan dibandingkan dua tahun sebelumnya. Setelah periode harga tinggi dan pembatasan ekspor dari India pada 2023–2024, tahun ini ditandai oleh melimpahnya pasokan dan ketatnya persaingan harga.
Kondisi ini menempatkan India pada posisi yang semakin dominan sebagai eksportir utama. Sementara itu, negara-negara pengekspor beras lainnya seperti Thailand dan Vietnam menghadapi tekanan berat akibat penguatan mata uang, penurunan harga ekspor, serta perubahan kebijakan dari importir besar seperti Filipina.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Laporan Reuters pada Mei 2025 mengindikasikan bahwa pasar beras global telah “mencapai lantai” harga. Namun, peluang kenaikan harga sangat terbatas karena banjir pasokan dari India.
Asosiasi perdagangan di Thailand dan Vietnam juga memproyeksikan penurunan ekspor pada tahun 2025. Hal ini terjadi seiring dengan semakin banyaknya pembeli yang beralih ke beras India yang menawarkan harga lebih kompetitif.
Lima Eksportir Beras Terbesar Dunia 2025
Berikut adalah gambaran mengenai negara-negara eksportir beras terbesar di dunia pada tahun 2025, dengan fokus pada lima pemain utama yang secara konsisten mendominasi perdagangan global:
- India
- Thailand
- Vietnam
- Pakistan
- Amerika Serikat (AS)
1. India: Mesin Ekspor yang Kembali Menyala
Sepanjang tahun 2025, India berhasil mengukuhkan posisinya sebagai negara eksportir beras nomor satu dunia. Data dari Reuters menunjukkan bahwa ekspor beras India dalam 10 bulan pertama tahun 2025 telah mencapai 18,49 juta ton, sebuah peningkatan signifikan sebesar 37 persen secara tahunan.
Dengan tren ini, total ekspor beras India diproyeksikan akan menembus rekor 22,5 juta ton pada akhir tahun. Kekuatan dominasi India pada tahun 2025 tidak hanya berasal dari volume produksi yang besar, tetapi juga didukung oleh stok pemerintah yang melimpah, kebijakan ekspor yang lebih longgar dibandingkan periode pembatasan sebelumnya, serta faktor nilai tukar mata uang yang mendukung daya saing produk mereka di pasar global.
Dev Garg, Wakil Presiden Federasi Eksportir Beras India, dalam laporan Reuters Oktober 2025, menjelaskan strategi eksportir India untuk memperluas pasar. “India sudah menjadi pemain utama dalam perdagangan beras global, dan tujuan kami sekarang adalah untuk menjangkau pembeli di pasar yang kurang terlayani guna lebih meningkatkan ekspor pada saat produksi dan stok sedang kuat,” kata Garg.
India diperkirakan menyumbang sekitar 40 persen dari total ekspor beras global, angka ini bahkan melampaui gabungan pengiriman dari empat eksportir besar lainnya: Thailand, Vietnam, Pakistan, dan Amerika Serikat. Pelonggaran kebijakan ekspor juga turut memperbesar ruang gerak para eksportir.
Pada Maret 2025, Reuters melaporkan bahwa India kembali mengizinkan ekspor beras patah (broken rice), yang sebelumnya telah dilarang sejak tahun 2022. “Karena ekspor beras pecah sekarang sudah diperbolehkan, kami memperkirakan akan mengekspor sekitar 2 juta ton beras jenis ini pada tahun 2025,” jelas B.V. Krishna Rao, Presiden Asosiasi Eksportir Beras.
Harga tetap menjadi variabel kunci dalam persaingan pasar. Himanshu Agrawal, Direktur Eksekutif Satyam Balajee, berpendapat bahwa India memiliki peluang untuk meningkatkan ekspor saat stok negara pesaing menipis. “Namun, negara-negara pesaing ini memiliki stok yang terbatas. Seiring menipisnya stok mereka, pembeli akan beralih ke India, dan ekspor akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang,” ungkap Agarwal.
2. Thailand: Terjepit Kurs Baht dan Kompetisi Harga
Secara historis, Thailand dikenal sebagai salah satu eksportir beras utama dunia, terutama untuk varietas premium seperti beras melati (jasmine rice). Namun, pada tahun 2025, posisi Thailand di pasar global menghadapi tantangan signifikan.
Negara ini terjepit oleh dua faktor utama: penurunan harga beras global dan penguatan mata uang baht. Kedua kondisi ini secara bersamaan menekan daya saing ekspor beras Thailand.






