Nasional

Dilema Hubungan Tarik-Ulur: Saat Anxious Membutuhkan dan Avoidant Menjauhkan Diri

Pernahkah Anda merasa lelah sendiri dalam sebuah hubungan asmara? Anda mungkin merasa membutuhkan komunikasi, kepastian, dan kedekatan, namun pasangan justru semakin diam, menjauh, atau menyatakan, “Aku butuh waktu sendiri.”

Ketika Anda panik, pasangan menghilang. Saat Anda mengejar, ia menjauh. Ketika Anda meminta penjelasan, jawaban yang didapat seringkali hanya, “Tidak tahu, aku bingung dengan diriku sendiri.” Pola ini, meski melelahkan bagi kedua belah pihak, seringkali sulit untuk dilepaskan.

Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id

Memahami Gaya Keterikatan Anxious dan Avoidant

Dalam psikologi, pola interaksi ini dikenal sebagai dinamika antara anxious attachment style dan avoidant attachment style. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh psikiater John Bowlby dan kini banyak dibahas di berbagai laman psikologi populer, termasuk Simply Psychology.

Mengutip dari halodoc.com, attachment style adalah cara seseorang berinteraksi dan menjalin hubungan dengan orang lain, terutama dalam konteks hubungan romantis atau hubungan dekat lainnya. Cara ini terbentuk sejak masa kanak-kanak, dipengaruhi oleh bagaimana seseorang merasa dicintai, ditinggalkan, atau diperhatikan oleh orang-orang terdekat, terutama pola asuh orang tua. Tanpa disadari, pola tersebut terbawa hingga dewasa, termasuk dalam hubungan romantis.

Karakteristik Anxious Attachment

Individu dengan anxious attachment biasanya sangat peka terhadap perubahan sikap pasangan. Balasan pesan yang lama, nada bicara yang berubah, atau sikap yang terasa dingin dapat langsung memicu overthinking. Bagi mereka, kedekatan emosional adalah sumber rasa aman. Oleh karena itu, ketika pasangan terlihat menjauh, alarm dalam pikiran mereka langsung berbunyi, memunculkan kekhawatiran akan ditinggalkan.

Gaya keterikatan ini seringkali terbentuk dari pola asuh yang inkonsisten, seperti terkadang sangat dimanja namun setelah itu diabaikan, atau penuh perhatian lalu kemudian cuek. Akibatnya, individu dengan anxious attachment merasa harus selalu memikirkan perasaan orang lain dan cenderung bergantung secara emosional.

Karakteristik Avoidant Attachment

Sebaliknya, individu dengan avoidant attachment justru sering merasa tidak nyaman dengan kedekatan yang terlalu intens. Ketika hubungan mulai terasa “terlalu dekat”, penuh tuntutan emosi, atau terlalu banyak pembicaraan perasaan, mereka bisa merasa sesak. Menjauh, diam, atau menyibukkan diri menjadi cara tercepat untuk merasa aman dan tenang kembali.

Karakteristik ini berkembang karena mereka seringkali dipaksa untuk mandiri dan ditinggalkan, atau secara tidak langsung sering ditolak saat mengutarakan perasaan mereka yang sesungguhnya. Hal ini membuat mereka merasa sulit dan terancam saat menerima ketertarikan dan kedekatan emosional dari orang lain.

Dinamika Tarik-Ulur yang Melelahkan

Masalahnya, individu dengan gaya keterikatan anxious dan avoidant seringkali saling tertarik. Di awal hubungan, semuanya bisa terasa baik-baik saja. Pihak anxious merasa diperhatikan, dan pihak avoidant merasa tidak terlalu ditekan. Namun seiring waktu, perbedaan kebutuhan ini mulai muncul ke permukaan.

Ketika pihak anxious merasa pasangannya menjauh, ia akan berusaha mendekat. Ia menginginkan kejelasan, kepastian, dan merasa diperjuangkan. Namun justru di titik inilah, pihak avoidant merasa kewalahan. Kedekatan yang diminta pihak anxious terasa seperti tekanan, yang akhirnya membuat pihak avoidant menarik diri lebih jauh. Pola ini terus berulang, menciptakan hubungan tarik-ulur yang melelahkan bagi keduanya.

Secara sains, dinamika ini bukan karena salah satu pihak terlalu “drama” atau tidak cukup peduli. Penelitian menunjukkan bahwa individu dengan anxious attachment memiliki sistem emosi yang lebih sensitif terhadap ancaman sosial, seperti penolakan atau kehilangan. Sementara itu, individu avoidant cenderung belajar menenangkan diri dengan cara menutup emosi dan menjaga jarak.

Mureks mencatat bahwa baik individu dengan gaya keterikatan anxious maupun avoidant sebenarnya memiliki tujuan yang sama: mencari rasa aman. Bedanya adalah cara mereka dalam meraih kenyamanan tersebut. Pihak anxious akan merasa aman lewat kedekatan, sementara pihak avoidant merasa aman lewat jarak. Kedua cara ini sama-sama valid, namun bisa saling berbenturan jika tidak disadari.

Itulah mengapa hubungan anxious–avoidant sering terasa begitu intens, melelahkan, namun juga susah ditinggalkan. Ada harapan bahwa semuanya akan berubah jika salah satu bertahan lebih lama. Padahal, tanpa kesadaran akan pola ini, hubungan bisa terus berputar dalam siklus yang sama.

Langkah Menuju Hubungan yang Lebih Sehat

Memahami attachment style bukan berarti memberi cap atau menyalahkan diri sendiri maupun pasangan. Justru sebaliknya, pemahaman ini dapat membantu Anda lebih jujur pada diri sendiri. Jujur dalam mengungkapkan apa yang sebenarnya Anda butuhkan dalam hubungan dan apakah kebutuhan itu dapat dipenuhi dengan cara yang sehat.

Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan tentang siapa yang paling keras mengejar atau paling kuat menjauh. Hubungan yang sehat adalah ketika dua orang bisa merasa aman tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Mureks