JAKARTA, Mureks – Densus 88 Antiteror Polri mengungkap keberadaan sebuah grup percakapan internasional bernama The True Crime Community yang secara masif menyebarkan paham ekstremisme kepada anak-anak dan remaja. Menurut data yang dirilis, sebanyak 70 anak di Indonesia telah terpapar paham radikal ini setelah bergabung dengan grup tersebut maupun puluhan jejaring grup serupa.
Juru Bicara Densus 88, Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa komunitas ini kini menjadi fenomena di media sosial. Propaganda yang disebarkan mencakup paham white supremacy, neo-Nazi, dan ideologi ekstrem lainnya.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Komunitas Tumbuh Sporadis, Bukan Didirikan Tokoh
Mayndra menegaskan bahwa The True Crime Community tidak dibentuk oleh kelompok atau tokoh tertentu. Sebaliknya, komunitas ini tumbuh secara sporadis, mengikuti perkembangan teknologi digital dan minat individu terhadap kekerasan.
“Komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh pendiri organisasi maupun institusi, tetapi dia tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital yang merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional,” ujar Mayndra di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (7/1/2026).
Mureks mencatat bahwa paparan paham ekstrem melalui komunitas ini telah memicu serangkaian aksi kekerasan masif secara global sepanjang tahun 2025.
Rentetan Kekerasan Global Akibat Paham Ekstrem
Mayndra memaparkan beberapa contoh insiden kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia:
- Amerika Serikat, 22 Januari 2025: Pelaku Henderson Solomon, 17 tahun, melakukan penembakan di Antioch High School. “Karena yang bersangkutan membenci dirinya berkulit hitam dengan paparan paham White Supremacist melalui media sosial,” kata Mayndra.
- Amerika Serikat, Agustus 2025: Robin M. Westman, 23 tahun, melakukan penembakan saat ibadah di sebuah gereja Katolik. “Karena terobsesi untuk membunuh anak-anak,” jelas Mayndra.
- Amerika Serikat, Februari 2025: Trinity Shockley, 18 tahun, merencanakan penembakan di sekolah di Indiana.
- Amerika Serikat, September 2025: Desmond Holley, 16 tahun, melakukan penembakan di Evergreen High School, Colorado. “Dikarenakan yang bersangkutan terpapar paham Antisemitism dan Defamation League,” ungkap Mayndra.
- Rusia, 16 Desember 2025: Mario Nouval, 15 tahun, melakukan penusukan di Odintsovo, Moscow. Remaja ini menyerang sebuah sekolah dengan pisau, menewaskan seorang anak dan melukai petugas keamanan.
Inspirasi Kekerasan hingga ke Indonesia
Mayndra mengungkapkan bahwa para anggota komunitas ini saling menginspirasi. Hal ini terbukti dari pelaku penusukan di Moscow, Mario Nouval, yang menuliskan ‘Jakarta Bombing 2025’ pada gagang senjatanya. Tulisan ini merujuk pada insiden pengeboman SMAN 72 Jakarta yang terjadi sebelumnya.
“Nah, di dalam gagang senjata, pelaku penusukan di Moscow Rusia ini, kita bisa lihat bahwa dia menuliskan ada ‘Jakarta Bombing’ ya di situ. Dituliskan bahwa Jakarta Bombing 2025. Nah, di sini diambil oleh rekannya kemudian di-upload,” terang Mayndra. “Nah, saya ulangi, diambil oleh yang bersangkutan kemudian di-upload di dalam komunitas ini gitu ya. Nah, diduga ini terinspirasi adanya insiden bom SMAN 72 di Jakarta,” tambahnya.
Komunitas ekstremisme ini juga menginspirasi anak-anak di Indonesia untuk melakukan aksi kekerasan. Densus 88 bersama Polda Jateng berhasil menangani kasus seorang anak di Jepara yang berencana menjadi pelopor kekerasan di sekolah dan mengunggah aksinya ke komunitas tersebut.
Insiden SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025 juga disebut terkait dengan karakter pelaku yang sangat introvert dan terpapar paham ekstrem. Setelah kejadian di Jakarta, Densus 88 juga berhasil mendeteksi dan mencegah rencana aksi serupa di Kalimantan Barat pada 8 Desember 2025 dan di Jawa Timur pada 17 Desember 2025.
Intervensi Densus 88 untuk Anak Terpapar
Menyikapi fenomena ini, Densus 88 segera mengambil tindakan. “Dan kemudian pada tanggal 22 Desember 2025, Mabes Polri beserta jajaran serempak untuk bersama-sama dengan kementerian/lembaga terkait segera mengintervensi anak yang lain ya, daripada 70 orang ini,” tutup Mayndra.
Referensi penulisan: m.kumparan.com






