Nasional

Delta Force, Pasukan Khusus AS, Disebut Berperan Kunci dalam Penangkapan Nicolas Maduro

Nama Pasukan Delta Force kembali menjadi sorotan publik internasional setelah sejumlah laporan intelijen mengindikasikan unit elite Amerika Serikat tersebut memainkan peran krusial dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal tahun 2026. Meskipun pemerintah AS belum secara terbuka mengonfirmasi detail operasi tersebut, dugaan keterlibatan Delta Force menegaskan posisinya sebagai ujung tombak Amerika dalam misi-misi paling sensitif dan berisiko tinggi di seluruh dunia.

Lahir dari Refleksi Kegagalan Operasi

Delta Force dibentuk pada tahun 1977, sebagai respons atas serangkaian kegagalan militer Amerika Serikat dalam operasi kontra-terorisme dan penyelamatan sandera. Inisiatif pembentukan unit ini dipelopori oleh Kolonel Charles Beckwith, seorang perwira Angkatan Darat AS yang memiliki pengalaman bertugas bersama Special Air Service (SAS), pasukan elite Inggris. Pengalaman tersebut membentuk visinya tentang sebuah unit kecil, fleksibel, dan mampu bertindak cepat dalam situasi ekstrem.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Kebutuhan akan satuan khusus ini semakin mendesak pasca-tragedi Operasi Eagle Claw pada tahun 1980, sebuah misi penyelamatan sandera AS di Iran yang gagal dan menewaskan delapan tentara Amerika. Kegagalan tersebut memperkuat keyakinan bahwa AS membutuhkan unit khusus yang benar-benar siap untuk operasi rahasia lintas negara dengan tingkat presisi tertinggi.

Struktur dan Julukan “Pasukan Hantu”

Secara resmi, Delta Force dikenal sebagai 1st Special Forces Operational Detachment–Delta (1st SFOD-D). Unit ini berada di bawah naungan Angkatan Darat AS, namun operasionalnya dikendalikan langsung oleh Joint Special Operations Command (JSOC), sebuah struktur komando yang hanya menangani misi-misi kelas satu. Basis utamanya berlokasi di Fort Bragg, North Carolina, meskipun personelnya sering berpindah tanpa jejak administratif yang mudah dilacak.

Delta Force dijuluki “Pasukan Hantu” atau “Siluman” karena sifat operasi rahasia mereka yang sering kali tidak disebut dengan nama aslinya. Dalam dokumen dan komunikasi resmi, unit ini kerap menggunakan nama samaran seperti Combat Applications Group atau Army Compartmented Element. Hal ini bertujuan untuk menjaga kerahasiaan dan memberikan ruang bagi pemerintah AS untuk melakukan plausible deniability, atau penyangkalan yang masuk akal, jika operasi mereka menimbulkan implikasi politik internasional.

Proses Rekrutmen yang Sangat Selektif

Tidak ada pendaftaran terbuka untuk menjadi bagian dari Delta Force. Para operatornya direkrut dari prajurit terbaik Angkatan Darat AS, terutama dari Ranger Regiment dan Green Berets. Proses seleksinya dikenal sangat brutal, menguji ketahanan fisik, kecerdasan taktis, ketenangan psikologis, dan kemampuan bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Mereka yang berhasil lolos kemudian menjalani pelatihan lanjutan yang dirancang untuk menciptakan prajurit yang mampu bertindak mandiri tanpa komando langsung dalam situasi genting. Menurut Mureks, dalam banyak kasus, operator Delta Force dilatih untuk membuat keputusan strategis sendiri di lapangan, bahkan ketika komunikasi dengan pusat komando terputus.

Spesialis Operasi Target Bernilai Tinggi

Delta Force dikenal sebagai unit spesialis dalam operasi penangkapan atau eliminasi target bernilai tinggi. Fokus utama mereka bukan pada pertempuran terbuka, melainkan operasi singkat, senyap, dan presisi tinggi. Infiltrasi, close quarters combat (pertempuran jarak dekat), penguasaan bangunan, serta ekstraksi cepat menjadi keahlian utama unit ini.

Dalam praktiknya, Delta Force sering bekerja berdampingan dengan Central Intelligence Agency (CIA), terutama dalam operasi yang membutuhkan intelijen manusia dan perencanaan jangka panjang. Sinergi ini menjadikan Delta Force bukan sekadar pasukan tempur, melainkan alat geopolitik Amerika Serikat.

Operasi Penting yang Mengubah Sejarah

Meskipun sebagian besar misi Delta Force tetap dirahasiakan, beberapa operasi besar akhirnya terungkap ke publik. Unit ini terlibat dalam pertempuran di Mogadishu pada tahun 1993, yang kemudian dikenal luas melalui insiden Black Hawk Down. Pada dekade berikutnya, Delta Force menjadi bagian penting dalam perang melawan Al-Qaeda dan ISIS, termasuk operasi perburuan Abu Bakr al-Baghdadi pada tahun 2019.

Dalam setiap operasi tersebut, pola yang sama terlihat: perencanaan panjang, simulasi berulang, dan eksekusi cepat dengan tingkat kesalahan mendekati nol. Model operasi inilah yang kemudian diduga diterapkan kembali dalam kasus Venezuela.

Operasi Penangkapan Nicolas Maduro

Penangkapan Presiden Nicolas Maduro menandai babak baru dalam sejarah operasi khusus Amerika Serikat. Berdasarkan laporan sejumlah media internasional, operasi ini melibatkan latihan intensif berbulan-bulan, termasuk pembangunan replika lokasi target untuk simulasi penyerbuan. Delta Force disebut menjadi elemen utama dalam fase direct action, sementara CIA memainkan peran dalam pengumpulan intelijen dan pemetaan jaringan pengamanan Maduro.

Operasi tersebut dijalankan dengan kecepatan tinggi untuk meminimalkan potensi perlawanan dan korban sipil. Maduro dilaporkan ditangkap hidup-hidup dan segera dibawa keluar wilayah Venezuela dalam hitungan jam. Sebuah postingan di media sosial Truth milik Presiden Donald Trump, yang menampilkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro ditahan pasukan AS di Kapal Serang Amfibi USS Iwo Jima, usai ditangkap Sabtu (3/1), turut menjadi perhatian publik. Hingga kini, pemerintah AS tetap menutup rapat detail teknis operasi tersebut, namun keterlibatan Delta Force secara luas diyakini oleh kalangan pertahanan dan intelijen global.

Mureks