Nasional

Delta Force, ‘Hantu’ Militer AS, Diduga Pimpin Operasi Penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela

Nama Pasukan Delta Force kembali menjadi sorotan dunia setelah sejumlah laporan intelijen mengindikasikan unit elite militer Amerika Serikat (AS) ini memainkan peran sentral dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada awal Januari 2026. Meskipun pemerintah AS belum secara resmi mengakui detail operasi tersebut, keterlibatan Delta Force menegaskan posisinya sebagai ujung tombak Washington dalam misi-misi paling sensitif dan berisiko tinggi di kancah global.

Delta Force: Lahir dari Kegagalan dan Kebutuhan Mendesak

Delta Force dibentuk pada tahun 1977, sebagai respons atas serangkaian kegagalan militer AS dalam operasi kontra-terorisme dan penyelamatan sandera. Inisiatif pembentukan unit ini dipelopori oleh Kolonel Charles Beckwith, seorang perwira Angkatan Darat AS yang memiliki pengalaman bertugas bersama Special Air Service (SAS) Inggris.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

Pengalaman Beckwith membentuk visinya tentang sebuah unit kecil, fleksibel, dan mampu bertindak cepat dalam situasi ekstrem. Kebutuhan akan satuan khusus ini semakin mendesak pasca-tragedi Operasi Eagle Claw pada tahun 1980, sebuah misi penyelamatan sandera AS di Iran yang gagal dan menewaskan delapan tentara Amerika. Kegagalan tersebut memperkuat keyakinan bahwa AS membutuhkan unit yang benar-benar siap untuk operasi rahasia lintas negara dengan tingkat presisi tertinggi.

Struktur dan Kerahasiaan “Pasukan Hantu”

Secara resmi, Delta Force dikenal sebagai 1st Special Forces Operational Detachment–Delta (1st SFOD-D). Unit ini berada di bawah Angkatan Darat AS, namun operasionalnya dikendalikan langsung oleh Joint Special Operations Command (JSOC), sebuah struktur komando yang khusus menangani misi-misi kelas satu.

Basis utama Delta Force terletak di Fort Bragg, North Carolina. Namun, personelnya sering berpindah lokasi tanpa jejak administratif yang mudah dilacak, menjadikannya dijuluki “Pasukan Hantu” atau “Siluman”. Julukan ini mencerminkan sifat operasi rahasia mereka yang sering kali tidak disebut dengan nama aslinya.

Dalam dokumen dan komunikasi resmi, unit ini kerap menggunakan nama samaran seperti Combat Applications Group atau Army Compartmented Element. Ini bertujuan untuk menjaga kerahasiaan dan memberikan ruang bagi pemerintah AS untuk melakukan plausible deniability, atau penyangkalan yang masuk akal, jika operasi mereka menimbulkan implikasi politik internasional.

Rekrutmen Selektif dan Pelatihan Ekstrem

Tidak ada pendaftaran terbuka untuk menjadi anggota Delta Force. Para operatornya direkrut dari prajurit terbaik Angkatan Darat AS, terutama dari Ranger Regiment dan Green Berets. Proses seleksinya dikenal sangat brutal, menguji ketahanan fisik, kecerdasan taktis, ketenangan psikologis, dan kemampuan bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.

Mereka yang berhasil lolos kemudian menjalani pelatihan lanjutan yang dirancang untuk menciptakan prajurit yang mampu bertindak mandiri tanpa komando langsung dalam situasi genting. Mureks mencatat bahwa dalam banyak kasus, operator Delta Force dilatih untuk membuat keputusan strategis sendiri di lapangan, bahkan ketika komunikasi dengan pusat komando terputus.

Spesialis Operasi Target Bernilai Tinggi

Delta Force dikenal sebagai unit spesialis dalam operasi penangkapan atau eliminasi target bernilai tinggi. Fokus utama mereka bukan pada pertempuran terbuka, melainkan operasi singkat, senyap, dan presisi tinggi. Keahlian utama unit ini meliputi infiltrasi, close quarters combat (pertempuran jarak dekat), penguasaan bangunan, serta ekstraksi cepat.

Dalam praktiknya, Delta Force sering bekerja berdampingan dengan Central Intelligence Agency (CIA), terutama dalam operasi yang membutuhkan intelijen manusia dan perencanaan jangka panjang. Sinergi ini menjadikan Delta Force bukan sekadar pasukan tempur, melainkan alat geopolitik strategis bagi Amerika Serikat.

Jejak Operasi Delta Force yang Mengubah Sejarah

Meskipun sebagian besar misi Delta Force tetap dirahasiakan, beberapa operasi besar akhirnya terungkap ke publik. Unit ini terlibat dalam pertempuran di Mogadishu pada tahun 1993, yang kemudian dikenal luas melalui insiden “Black Hawk Down”.

Pada dekade berikutnya, Delta Force menjadi bagian penting dalam perang melawan Al-Qaeda dan ISIS, termasuk operasi pemburuan pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi, pada tahun 2019. Dalam setiap operasi tersebut, pola yang sama terlihat: perencanaan panjang, simulasi berulang, dan eksekusi cepat dengan tingkat kesalahan mendekati nol. Model operasi inilah yang kemudian diterapkan kembali dalam kasus Venezuela.

Operasi Penangkapan Nicolas Maduro: Presisi dan Kecepatan

Penangkapan Presiden Nicolas Maduro menandai babak baru dalam sejarah operasi khusus Amerika Serikat. Berdasarkan laporan sejumlah media internasional, operasi ini melibatkan latihan intensif berbulan-bulan, termasuk pembangunan replika lokasi target untuk simulasi penyerbuan.

Delta Force disebut menjadi elemen utama dalam fase direct action, sementara CIA memainkan peran krusial dalam pengumpulan intelijen dan pemetaan jaringan pengamanan Maduro. Operasi tersebut dijalankan dengan kecepatan tinggi untuk meminimalkan potensi perlawanan dan korban sipil.

Maduro dilaporkan ditangkap hidup-hidup dan segera dibawa keluar wilayah Venezuela dalam hitungan jam. Hingga kini, pemerintah AS tetap menutup rapat detail teknis operasi tersebut. Namun, keterlibatan Delta Force dalam penangkapan Maduro secara luas diyakini oleh kalangan pertahanan dan intelijen global, menurut pantauan Mureks.

Mureks