Dunia digegerkan oleh kabar penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Delta Force, pasukan khusus utama Amerika Serikat, pada Minggu (4/1/2026). Insiden ini kembali menyoroti peran krusial pasukan elit dalam operasi rahasia dan penanggulangan ancaman global.
Delta Force sendiri merupakan unit elit yang dibentuk oleh Kolonel Charles Alvin Beckwith, atau yang akrab disapa Charlie Beckwith, pada 19 November 1977. Pembentukan pasukan ini terinspirasi dari pengalamannya bertugas bersama British Special Air Service (SAS), pasukan khusus Inggris yang fokus pada penanganan terorisme dan penyelamatan sandera.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Identitas anggota Delta Force sangat dirahasiakan, mirip dengan Badan Intelijen Pusat (CIA). Sebagai pasukan elit utama, proses rekrutmen anggotanya dikenal sangat sulit dan teliti. Kandidat ideal seringkali berasal dari unit elit US Army Rangers atau Green Berets. Mureks mencatat bahwa seleksi yang ketat dan brutal ini membuat hanya segelintir dari ribuan pendaftar yang berhasil lulus. Prosesnya pun bersifat sangat rahasia dan hanya melalui jalur militer khusus.
SATGULTOR: Pasukan Elit Anti-Teror Indonesia
Pertanyaan pun muncul, apakah Indonesia memiliki pasukan khusus yang setara dengan Delta Force? Tentu saja. Indonesia memiliki Satuan Penanggulangan Teror (SATGULTOR) yang dikenal sebagai Detasemen Khusus 81.
Pembentukan SATGULTOR tidak lepas dari pengalaman pahit peristiwa pembajakan pesawat DC-9 Garuda Woyla di Bandara Don Muang, Bangkok, Thailand, pada 28 Maret 1981. Pembajakan tersebut dilakukan oleh kelompok ekstremis bernama Komando Jihad.
Kopassus, yang kala itu masih bernama Kopassandha, ditunjuk oleh Panglima ABRI Jenderal M. Jusuf untuk mengambil alih operasi pembebasan sandera. Letnan Kolonel Inf. Sintong Panjaitan memimpin operasi tersebut, dengan memilih personel terbaik dari Kopassandha, mengingat Sat 81/Gultor belum terbentuk saat itu.
Operasi pembebasan sandera berjalan sukses secara dramatis, melambungkan reputasi Kopassus di mata dunia internasional. Keberhasilan ini, sekaligus pengalaman ketidaksiapan dalam menghadapi terorisme di era tersebut, mendorong Kepala Badan Intelijen Strategis ABRI, Letnan Jenderal TNI L.B Moerdani, untuk menginisiasi pembentukan kesatuan baru setingkat Detasemen di lingkungan Kopassandha.
Pada 30 Juni 1982, secara resmi dibentuklah Satuan Anti Teror Detasemen 81 (Den-81) Kopassandha, melalui surat keputusan nomor: SKEP/4/VI/1982. Ini menjadi Satuan Anti Teror pertama di Indonesia. Mayor Inf. Luhut Binsar Panjaitan ditunjuk sebagai komandan pertama, didampingi Kapten Inf. Prabowo Subianto selaku wakil komandan.
Keberadaan pasukan elit seperti Detasemen 81 Republik Indonesia diharapkan terus diperkuat dengan alat canggih serta latihan yang keras, gigih, dan disiplin. Hal ini krusial agar mereka senantiasa siaga menjaga keutuhan dan keamanan negara Indonesia tercinta.




