Nasional

Dari Liga Inggris ke Pikiran Thomas Piketty: Taktik Jitu Pura-Pura Pintar di Tengah Diskusi Elit

Jumat, 09 Januari 2026 – Berada di tengah lingkaran diskusi yang dipenuhi pemikiran mendalam tentang teori sosial atau fluktuasi ekonomi global seringkali memunculkan perasaan canggung. Bagi sebagian orang, termasuk penulis, situasi ini ibarat pemain cadangan dari kasta ketiga yang tiba-tiba dipaksa berlaga di final Liga Champions.

Pengalaman serupa baru-baru ini dialami saat terjebak dalam percakapan yang mengutip pemikiran Thomas Piketty soal ketimpangan modal atau membahas dampak disrupsi AI terhadap eksistensi manusia. Ironisnya, isi kepala saat itu justru dipenuhi berita seputar hasil imbang Manchester United vs Burnley atau kabar pemecatan Ruben Amorim.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Menguasai Impression Management ala Erving Goffman

Untuk menjaga harga diri di tengah situasi tersebut, teknik pertama yang diterapkan adalah menguasai impression management. Sosiolog Erving Goffman, dalam bukunya The Presentation of Self in Everyday Life, menjelaskan bahwa “hidup ini hanyalah panggung sandiwara”. Prinsip ini menjadi landasan untuk “mengenakan topeng”.

Ketika istilah-istilah kompleks dilontarkan, alih-alih melongo, respons yang diberikan adalah menyandarkan punggung, memicingkan mata sedikit, dan memberikan anggukan kecil. Dalam kebingungan, diam seringkali menjadi senjata utama untuk tetap terlihat cerdas.

Strategi Analogi Kontekstual: Menarik ke Ranah yang Dikuasai

Jika percakapan mulai menyudutkan untuk berbicara, kepanikan dihindari dengan menggunakan strategi analogi kontekstual. Apapun topik berat yang dilempar, upaya dilakukan untuk menariknya ke ranah yang dikuasai. Misalnya, saat membahas kegagalan birokrasi, interupsi dilakukan dengan, “Menarik. Lihat kasus pelatih MU; taktik dan nama sehebat apa pun kalau masuk ke sistem yang sudah toksik, hasilnya selalu anomali.”

Penyebutan kata “anomali” secara otomatis memberikan kesan analisis tingkat tinggi, padahal sejatinya itu adalah curahan hati tentang nasib Manchester United. Mureks mencatat bahwa teknik ini efektif untuk mengalihkan fokus pembicaraan ke area yang lebih familiar.

Skeptisisme ala Sherlock Holmes dan Teori Ketidakpastian

Selanjutnya, teknik skeptisisme ala Sherlock Holmes sering diadopsi. Holmes selalu menang karena ia memperhatikan apa yang tidak dilihat orang lain. Di tengah perdebatan teori yang rumit, pernyataan aman seperti, “Benar, tapi menurut saya, realitas di lapangan mungkin lebih cair?” sering dilontarkan. Pernyataan ini sulit dibantah karena dunia memang rumit, mirip karakter Chance the Gardener dalam film Being There yang dianggap filsuf besar hanya karena bicara sederhana tentang berkebun.

Dalam situasi yang benar-benar terjepit, terutama saat ditanya soal referensi buku atau literatur yang belum pernah didengar, teori ketidakpastian dijadikan tameng. Pernyataan seperti, “Dalam dunia yang penuh dengan kejutan tak terduga—seperti Aston Villa yang berada di papan atas liga inggris,” membuat terlihat seperti seorang praktisi pragmatis yang sangat menghargai fakta lapangan.

Berpura-pura pintar kadang menjadi bagian dari cara bertahan hidup. Penting untuk tidak merasa rendah diri. Selama tetap tenang, menjaga diksi tetap formal, dan tahu kapan harus melemparkan senyum, posisi di tengah diskusi akan tetap aman.

Pada akhirnya, sedikit sandiwara adalah cara agar tetap bisa menikmati kopi tanpa harus merasa terasing di tengah kerumunan. Dunia mungkin membutuhkan orang-orang yang hafal teori Karl Marx, namun juga membutuhkan mereka yang berusaha bertahan hidup di tengah ketidakpastian, bahkan jika isi kepala hanya sebatas Liga Inggris.

Mureks