Keuangan

CSIS Peringatkan: Pengangguran Gen Z Terdidik Melonjak, Pendidikan Tak Selaras Industri

JAKARTA – Center for Strategic and International Studies (CSIS) menyoroti fenomena tingginya angka pengangguran di kalangan generasi Z yang berpendidikan. Lembaga riset ini berpandangan bahwa persoalan tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh aturan ketenagakerjaan, melainkan lebih pada ketidakselarasan antara sistem pendidikan dengan kebutuhan industri.

Peneliti Senior Departemen Ekonomi CSIS, Deni Friawan, dalam Media Briefing Outlook 2026 CSIS di Jakarta pada Rabu (7/1/2026), menegaskan bahwa akar masalahnya terletak pada kurikulum pendidikan yang belum mampu menjawab permintaan dunia usaha di dalam negeri.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Pendidikan Belum Adaptif dengan Kebutuhan Industri

“Seharusnya membenahi tidak hanya di sektor-sektor itu saja tapi juga sektor dari sektor pendidikannya bagaimana membuka program-program yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” ujar Deni Friawan, seperti yang Mureks mencatat bahwa pernyataannya disampaikan dalam acara tersebut.

Deni menjelaskan, terdapat ketidakcocokan (mismatch) yang signifikan antara keterampilan yang diajarkan oleh lembaga pendidikan, baik universitas maupun sekolah kejuruan, dengan kompetensi yang sesungguhnya dibutuhkan oleh industri. Ia mencontohkan, banyak institusi pendidikan yang lebih berfokus pada peningkatan jumlah peserta didik tanpa mempertimbangkan prospek kerja lulusan di kemudian hari.

Akibatnya, banyak lulusan yang tidak dapat diserap oleh pasar kerja dan cenderung harus berjuang sendiri tanpa integrasi yang jelas dengan kebutuhan sektor riil. Menurut Deni, hal ini menciptakan kesenjangan yang semakin lebar antara suplai tenaga kerja terdidik dan permintaan dari dunia usaha.

Struktur Ekonomi dan Tenaga Kerja

Selain faktor ketidakcocokan keterampilan, Deni juga menyoroti struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cenderung bias pada sektor padat modal. Pola pertumbuhan semacam ini dinilai tidak efektif dalam menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, padahal struktur tenaga kerja nasional didominasi oleh lulusan pendidikan menengah.

“Sementara di sisi lain, struktur tenaga kerja kita itu banyak kan SMP, SMA, STM,” kata Deni, menggarisbawahi paradoks antara kebutuhan industri dan ketersediaan tenaga kerja.

Data yang dihimpun CSIS menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbesar memang masih berasal dari lulusan SMA dan SMK. Namun, yang menjadi perhatian adalah peningkatan jumlah pengangguran di kalangan lulusan diploma hingga pascasarjana, meskipun secara persentase jumlahnya relatif lebih kecil.

Deni Friawan memperingatkan bahwa meskipun persentasenya tidak dominan, pengangguran di kalangan masyarakat terdidik ini berpotensi memicu gejolak sosial yang serius jika tidak segera ditangani.

Secara keseluruhan, pantauan Mureks terhadap data CSIS mengindikasikan bahwa pengangguran usia muda dan terdidik terus meningkat di tengah memburuknya kualitas lapangan kerja. Meskipun tingkat pengangguran terbuka (TPT) relatif rendah, sebagian besar penyerapan tenaga kerja terjadi di sektor informal. Kondisi ini diperparah dengan terus bertambahnya kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor.

Mureks