Internasional

AS Umumkan Israel dan Suriah Bentuk Tim Gabungan untuk Tukar Intelijen dan Hindari Perang

Amerika Serikat (AS) mengumumkan bahwa Israel dan Suriah, dua negara yang sebelumnya dikenal sebagai musuh bebuyutan, akan membentuk tim gabungan di bawah pengawasan Gedung Putih. Pembentukan tim ini bertujuan utama untuk menghindari potensi konflik bersenjata di kawasan.

Mekanisme Baru untuk De-eskalasi

Kementerian Luar Negeri AS dalam rilis resminya pada Selasa (6/1) menyatakan bahwa kedua negara akan berbagi informasi intelijen dan berupaya keras mengurangi ketegangan militer di lapangan.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

“Kedua belah pihak telah memutuskan membentuk mekanisme fusi bersama — unit komunikasi khusus — untuk memfasilitasi koordinasi segera dan berkelanjutan dalam hal berbagi intelijen, de-eskalasi militer, keterlibatan diplomatik, dan peluang komersial di bawah pengawasan Amerika Serikat,” demikian bunyi rilis Kemlu AS yang dikutip AFP.

Mekanisme ini dirancang untuk menjadi platform penanganan perselisihan secara cepat dan mencegah kesalahpahaman yang dapat memicu eskalasi. Kemlu AS juga menambahkan bahwa Israel dan Suriah telah berkomitmen untuk mencapai pengaturan keamanan dan stabilitas abadi. Namun, rilis tersebut tidak merinci apakah Israel akan menahan diri dari serangan lebih lanjut atau memulihkan kesepakatan sebelumnya.

Seruan Kerja Sama Ekonomi dari Israel

Sementara itu, Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan kerja sama ekonomi dengan Suriah serta stabilitas dan keamanan regional. “Disepakati untuk melanjutkan dialog guna memajukan tujuan bersama dan menjaga keamanan minoritas Druze di Suriah,” bunyi pernyataan dari kantor PM Israel.

Latar Belakang Konflik dan Perubahan Rezim

Mureks mencatat bahwa Suriah dan Israel tidak memiliki hubungan diplomatik. Kedua negara sering terlibat dalam saling serang dan memperebutkan wilayah strategis Dataran Tinggi Golan. Suriah juga secara konsisten mengecam agresi Israel di Palestina yang telah menyebabkan puluhan ribu korban jiwa.

Di bawah rezim Bashar Al Assad, Suriah dikenal sebagai sekutu Iran dan memiliki hubungan erat dengan Teheran. Bashar Al Assad lengser pada Desember 2024 setelah perlawanan milisi yang dipimpin langsung oleh Sharaa.

Sejak keruntuhan rezim Assad, Israel telah mengirim pasukannya ke zona penyangga di wilayah yang memisahkan pasukan Israel dan Suriah, yakni Dataran Tinggi Golan. Israel, dengan alasan adanya kekosongan kekuasaan, juga secara sepihak menyatakan pembatalan perjanjian penarikan pasukan tahun 1974 dengan Suriah.

Sharaa, pemimpin baru Suriah, berupaya memulihkan kesepakatan tersebut dan menghindari konflik yang lebih luas dengan Israel. Namun, ia juga menentang desakan pemerintahan Netanyahu untuk mempertahankan zona demiliterisasi di Suriah selatan.

Mureks