Para analis pasar saham menyoroti tembaga sebagai pilihan investasi logam terbaik di luar emas dan perak untuk tahun 2026. Prospek komoditas ini dinilai menjanjikan di tengah kondisi pasar yang dinamis.
Tembaga Unggul di Tengah Proyeksi Defisit
Menurut pantauan Mureks, dua analis terkemuka dari Seeking Alpha, Andrew Hecht dan Agar Capital, memberikan pandangan mereka terkait potensi investasi di sektor logam. Keduanya sepakat bahwa tembaga memiliki fundamental yang kuat.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Andrew Hecht secara spesifik menyatakan, “I like copper; it has made higher lows and higher highs for years. Fundamentals suggest 2026 will be another deficit year.” Pernyataan ini menggarisbawahi tren positif tembaga yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir, didukung oleh proyeksi defisit pasokan yang berkelanjutan.
Defisit pasokan tembaga pada tahun 2026 mengindikasikan bahwa permintaan akan melebihi ketersediaan, yang secara historis cenderung mendorong kenaikan harga. Kondisi ini menjadikan tembaga sebagai aset menarik bagi investor yang mencari diversifikasi di luar logam mulia tradisional seperti emas dan perak.
Beberapa perusahaan besar yang bergerak di sektor tembaga dan pertambangan global meliputi Freeport-McMoRan Inc. (FCX), Southern Copper Corp (SCCO), BHP, Rio Tinto (RIO), dan Glencore (GLCNF/GLNCY). Selain itu, ada juga instrumen investasi seperti ETF DB Base Metals Fund (DBB), Global X Copper Miners ETF (COPX), dan United States Copper Index Fund (CPER) yang dapat menjadi pilihan bagi investor.






