Keuangan

Venezuela Dikabarkan Miliki Cadangan Bitcoin Rp 1.004 Triliun, Berpotensi Guncang Pasar Global

Rumor lama mengenai cadangan Bitcoin (BTC) Venezuela kembali mencuat ke permukaan. Hal ini terjadi menyusul operasi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) pada Januari 2026 yang menargetkan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Laporan intelijen, seperti dikutip dari Yahoo Finance pada Selasa (5/1/2026), mengindikasikan bahwa Venezuela kemungkinan telah mengumpulkan cadangan tersembunyi sebanyak 600.000 hingga 660.000 BTC.

Jumlah cadangan Bitcoin tersebut diperkirakan bernilai fantastis, mencapai USD 60 miliar atau setara Rp 1.004 triliun hingga USD 67 miliar atau Rp 1.121 triliun, dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran Rp 16.750. Dugaan kepemilikan Bitcoin dalam skala besar ini dinilai berpotensi mengubah dinamika pasokan dan sentimen pasar kripto global sepanjang tahun 2026.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Bagaimana Venezuela Mengakumulasi Bitcoin?

Menurut sumber yang dikutip oleh Whale Hunting, akumulasi cadangan Bitcoin Venezuela dimulai sejak tahun 2018. Proses ini melibatkan kombinasi pertukaran emas, penyelesaian pembayaran minyak dalam bentuk Tether (USDT), serta penyitaan hasil penambangan domestik.

Antara tahun 2018 hingga 2020, Venezuela dilaporkan mengekspor puluhan ton emas dari Orinoco Mining Arc. Sekitar USD 2 miliar atau Rp 33,49 triliun dari hasil penjualan emas tersebut kemudian dikonversi menjadi Bitcoin dengan harga rata-rata USD 5.000 atau Rp 83,2 juta per BTC. Transfer ini saja, yang kini bernilai sekitar USD 36 miliar atau Rp 60,2 triliun, menjadi fondasi utama cadangan kripto rahasia negara tersebut.

Setelah kegagalan kripto Petro yang didukung negara, rezim Maduro semakin mewajibkan PDVSA, perusahaan minyak negara, untuk menyelesaikan ekspor minyak mentah dalam bentuk USDT dari tahun 2023 hingga 2025. Stablecoin ini kemudian ‘dicuci’ menjadi Bitcoin. Langkah ini bertujuan untuk mengurangi risiko pembekuan rekening dan meminimalkan paparan terhadap dolar AS. Kepemilikan tambahan juga berasal dari penyitaan penambangan domestik, sehingga total akumulasi Bitcoin mencapai sekitar 600.000 koin, atau kira-kira 3% dari total pasokan yang beredar.

Dampak Potensial Cadangan Bitcoin Venezuela ke Pasar Global

Skala cadangan Bitcoin Venezuela yang diduga ini jauh lebih besar dibandingkan likuidasi yang pernah dilakukan pemerintah sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada tahun 2024, negara bagian Saxony di Jerman menjual 50.000 BTC (sekitar USD 3 miliar pada saat itu), yang memicu koreksi pasar sebesar 15–20%.

Sebaliknya, 600.000 BTC milik Venezuela, jika disita atau dibekukan, dapat memicu guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kondisi ini berpotensi mengurangi likuiditas yang tersedia dan mendukung harga Bitcoin yang lebih tinggi. AS kini menghadapi keputusan penting terkait nasib cadangan tersebut. Sumber-sumber menyebutkan tiga skenario utama, antara lain:

  • Aset tersebut dapat dibekukan dalam proses litigasi.
  • Aset tersebut dapat ditambahkan ke cadangan Bitcoin strategis AS.
  • Dilikuidasi melalui lelang, meskipun kemungkinan ini lebih kecil.

Analis percaya bahwa pembekuan aset atau penggabungannya ke dalam cadangan strategis AS merupakan pilihan yang paling mungkin. Langkah seperti itu berpotensi mengunci pasokan selama 5–10 tahun dan menciptakan narasi bullish untuk Bitcoin, serta bagi pemegang institusional seperti MicroStrategy ($MSTR).

Adopsi Kripto di Venezuela dan Ketidakpastian Politik

Penimbunan Bitcoin oleh Venezuela juga menyoroti adopsi kripto akar rumput yang luar biasa di negara tersebut. Hiperinflasi, sanksi AS, dan runtuhnya bolívar telah mendorong penggunaan Bitcoin dan stablecoin secara luas. Mureks mencatat bahwa pada akhir tahun 2025, hingga 10% pembayaran belanjaan dan hampir 40% transaksi antar individu dilakukan dengan kripto. Sementara itu, pengiriman uang melalui stablecoin menyumbang hampir 10% dari arus masuk. Venezuela sendiri berada di peringkat sekitar ke-17 secara global dalam adopsi kripto menurut Chainalysis.

Di Amerika Latin, penangkapan Presiden Maduro menimbulkan ketidakpastian lebih lanjut. Pemerintah transisi, yang kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh kepentingan AS, dapat mengambil beberapa langkah:

  • Melonggarkan pembatasan penambangan kripto.
  • Mendorong kebijakan pro-kripto.
  • Memprioritaskan pemulihan kepemilikan BTC yang diduga.

Namun, sampai kunci pribadi diserahkan atau klaim hukum diselesaikan, 600.000 BTC tersebut tetap ‘terkunci’ secara efektif. Situasi ini menciptakan volatilitas jangka pendek tetapi berpotensi menjadi guncangan pasokan jangka panjang yang mendukung apresiasi harga Bitcoin. Di pasar di mana setiap pemegang besar diperhitungkan, cadangan tersembunyi Venezuela muncul sebagai faktor penting namun terabaikan dalam dinamika Bitcoin global. Jika AS berhasil mengamankan dan membekukan aset tersebut, tahun 2026 dapat menyaksikan penataan ulang pasokan, likuiditas, dan sentimen pasar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tingkat partisipasi ini dapat mengubah akumulasi rahasia negara nakal menjadi salah satu cadangan Bitcoin strategis terbesar dalam sejarah.

Mureks