Keuangan

Neraca Dagang RI November 2025 Surplus Rp 43,6 Triliun, Perpanjang Tren Positif 67 Bulan

Kementerian Perdagangan (Kemendag) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 mencatatkan surplus sebesar 2,66 miliar dollar Amerika Serikat (AS). Angka ini setara dengan Rp 43,6 triliun, berdasarkan nilai tukar 16.770 per 1 dollar AS, sekaligus memperpanjang tren positif surplus selama 67 bulan berturut-turut.

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, yang akrab disapa Busan, menjelaskan bahwa capaian ini didukung kuat oleh kinerja sektor non-minyak dan gas (nonmigas). Sektor ini membukukan surplus signifikan sebesar 4,64 miliar dollar AS atau sekitar Rp 77,8 triliun. “Neraca perdagangan nonmigas mencatat surplus USD 4,64 miliar, sementara neraca minyak dan gas (migas) mencatat defisit USD 1,98 miliar,” ujar Busan dalam keterangan resminya pada Selasa (6/1/2026) malam.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Secara kumulatif, neraca perdagangan RI sepanjang Januari hingga November 2025 mencapai surplus 38,54 miliar dollar AS, atau setara Rp 646,3 triliun. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 yang mencatatkan surplus 29,24 miliar dollar AS (Rp 490,3 triliun). Tim redaksi Mureks mencatat bahwa peningkatan ini menunjukkan resiliensi ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.

Pada tahun 2025, surplus neraca dagang didorong oleh sektor nonmigas yang membukukan surplus 56,15 miliar dollar AS (Rp 941,7 triliun). Sementara itu, sektor migas masih mengalami defisit sebesar 17,61 miliar dollar AS atau setara Rp 295,3 triliun.

Busan menambahkan, surplus perdagangan sektor nonmigas kumulatif Januari hingga November 2025 merupakan hasil dari perdagangan yang kuat dengan beberapa negara mitra utama. Amerika Serikat (AS) menyumbang 19,21 miliar dollar AS (Rp 322,1 triliun), India 12,16 miliar dollar AS (Rp 203,9 triliun), dan Filipina 7,72 miliar dollar AS (Rp 129,4 triliun).

Meski demikian, pada November 2025, ekspor Indonesia mengalami penurunan 7,08 persen menjadi 22,52 miliar dollar AS (Rp 377,6 triliun). Penurunan ini, menurut Mureks, didorong oleh berkurangnya ekspor nonmigas sebesar 7,30 persen secara bulanan (MoM) dan sektor migas sebesar 1,25 persen.

Secara kumulatif, total ekspor Indonesia sepanjang Januari-November 2025 mencapai 256,56 miliar dollar AS, atau setara Rp 4,3 triliun. Nilai ini menunjukkan pertumbuhan 5,61 persen dibandingkan periode Januari-November 2024 (CtC), dengan ekspor nonmigas naik 7,07 persen (CtC) menjadi 244,75 miliar dollar AS (Rp 4,1 triliun).

Mendag Busan merinci, “Tiga komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi pada Januari–November 2025 adalah aluminium dan barang daripadanya (HS 76) yang naik hingga 57,69 persen; berbagai produk kimia (HS 38) naik 48,02 persen; serta kakao dan olahannya (HS 18) naik 44,06 persen (CtC).”

Kemendag juga mencatat bahwa sektor industri pengolahan mendominasi ekspor Januari-November 2025 dengan kontribusi 80,27 persen. Disusul oleh pertambangan dan lainnya sebesar 12,65 persen, migas 4,60 persen, dan pertanian 2,48 persen. “Secara kumulatif, ekspor pertanian naik tertinggi hingga 24,63 persen (CtC). Ekspor industri pengolahan juga naik sebesar 14,00 persen, namun sektor pertambangan dan lainnya turun 24,24 persen serta migas turun 17,64 persen (CtC),” pungkas Busan.

Mureks