Teheran diguncang gelombang protes anti-pemerintah yang meluas selama sepekan terakhir. Demonstrasi besar-besaran ini dipicu oleh kekhawatiran mendalam akibat krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda negara kaya minyak tersebut.
Menurut laporan, hingga Rabu (7/1/2026), sebanyak 29 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 1.200 orang ditangkap dalam kerusuhan tersebut. Situasi ini semakin memanas dengan kemungkinan adanya intervensi dari Amerika Serikat (AS).
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
AS Peringatkan Iran, Ancaman Tindakan Keras
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara tegas menyatakan akan membela para demonstran jika mereka diserang oleh aparat keamanan Iran. Trump juga memperingatkan kesiapan AS untuk bertindak jika Pemerintah Iran menggunakan kekerasan terhadap demonstrasi damai.
Pernyataan ini menjadi penanda penting, terutama setelah militer AS sebelumnya resmi menangkap Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dan membawanya ke New York. Trump mengingatkan otoritas Iran untuk tidak menggunakan kekerasan dan memakan lebih banyak korban.
“Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” kata Trump, seperti dikutip dari CNBC pada Selasa (6/1/2026).
Mureks mencatat bahwa otoritas Iran kemungkinan akan lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan terhadap demonstran menyusul ancaman Trump. Terlebih, AS sempat membom fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu, menambah ketegangan di kawasan.
“Kami melihat peningkatan risiko tindakan AS terhadap Iran pada awal tahun 2026 jika protes meningkat,” ujar seorang analis dari Fitch Solutions.
Krisis Ekonomi dan Sanksi Jadi Pemicu Utama
Di tengah kondisi ketidakpastian ini, pejabat Iran menilai negaranya bisa saja menjadi korban kebijakan agresif luar negeri Trump. Iran sendiri telah berada dalam krisis ekonomi sejak Trump menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran.
Langkah penarikan ini dilakukan Trump menyusul perjanjian yang membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Ekonomi Iran juga terguncang hebat akibat sanksi yang diberlakukan setelah perang 12 hari dengan Israel.
Dampak krisis ini terlihat jelas pada mata uang resmi Iran, Rial, yang anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah pada Desember 2025, mencapai sekitar 1,45 juta rial per dolar AS. Pada periode yang sama, inflasi Iran melonjak hingga 42,5%.
David Roche, seorang investor dan ahli strategi veteran dari Quantum Strategy, berpendapat bahwa krisis ekonomi berkepanjangan di Iran menimbulkan risiko yang lebih besar bagi rezim tersebut dibandingkan prospek intervensi AS.
“Iran tidak akan jatuh karena intervensi Amerika Serikat,” kata Roche.
Sebaliknya, Roche menambahkan, protes berkelanjutan yang dikombinasikan dengan memburuknya kondisi ekonomi domestik akan menimbulkan risiko yang lebih besar. Ia memprediksi bahwa rezim tersebut mungkin akan bertahan melewati gelombang protes kali ini, tetapi mereka tidak memiliki alat apa pun yang efektif untuk mengatasi masalah ekonomi yang mendasar.






