Keuangan

Operasi Militer AS di Venezuela Guncang Pasar: Saham Chevron dan Exxon Melonjak Tajam

Saham perusahaan minyak raksasa Amerika Serikat (AS) melonjak tajam pada perdagangan premarket Senin (5/1/2026). Kenaikan signifikan ini terjadi menyusul operasi militer besar-besaran AS di Venezuela yang berlangsung pada akhir pekan lalu.

Pada pukul 07.00 ET, saham Chevron tercatat naik 7,2 persen, sementara Exxon Mobil menguat 4,7 persen. Kenaikan serupa juga dialami ConocoPhillips yang melesat 7,2 persen, dan perusahaan jasa minyak SLB melonjak 9,6 persen, demikian dikutip dari CNBC. Operasi militer tersebut berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, beserta istrinya, Cilia Flores, sebuah langkah yang mengejutkan dunia dan segera menarik perhatian para investor global.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Fokus Investasi Energi AS di Venezuela

Presiden AS, Donald Trump, menegaskan bahwa pemerintahannya akan mengambil alih pengelolaan Venezuela hingga transisi yang aman dan tepat dapat dilakukan. Trump juga secara eksplisit menyatakan bahwa investasi AS di sektor energi Venezuela menjadi fokus utama pemerintahannya.

“Perusahaan minyak terbesar di AS akan masuk, menggelontorkan miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah,” ujar Trump dari Mar-a-Lago, Florida, pada Sabtu (3/1/2025) lalu.

Mureks mencatat bahwa Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di dunia, mencapai 303 miliar barel, atau sekitar 17 persen dari total cadangan global, menurut data U.S. Energy Information Administration. Negara ini juga merupakan anggota pendiri OPEC.

Paradoks Harga Minyak Global dan Tantangan Pemulihan

Meski saham perusahaan minyak AS menguat, harga minyak internasional justru menunjukkan penurunan tipis. Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret turun 0,6 persen menjadi 60,40 dollar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari turun 0,4 persen menjadi 57,11 dollar AS per barel.

Neil Atkinson, seorang analis energi independen dan mantan pegawai perusahaan minyak negara Venezuela PDVSA, menilai bahwa pemulihan industri minyak Venezuela tidak akan mudah. Ia menyoroti berbagai tantangan krusial seperti stabilitas hukum, pasokan listrik, serta kebutuhan pangan dan bahan bakar yang saat ini belum terpenuhi di negara tersebut.

“Kondisi ini tidak dapat diperbaiki tanpa persetujuan rakyat Venezuela,” ujar Atkinson.

Atkinson menambahkan, meskipun harga minyak global relatif rendah, perusahaan minyak AS akan tetap tertarik dengan Venezuela untuk alasan strategis jangka panjang. Namun, ia juga mengingatkan bahwa minyak Venezuela memiliki tantangan khusus terkait jenis minyak dan biaya pengolahannya.

“Ini merupakan langkah jangka panjang yang bisa menjadi alasan investor lebih optimistis terhadap perusahaan-perusahaan minyak AS,” pungkasnya.

Mureks