Sejumlah isu internasional menjadi sorotan pada Rabu (7/1/2026), mulai dari rencana Amerika Serikat untuk menguasai Greenland, tudingan Iran terhadap AS dan Israel terkait demonstrasi berdarah, hingga eskalasi konflik di Yaman. Perkembangan penahanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro di Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian global.
AS Dorong Opsi Militer untuk Kuasai Greenland
Amerika Serikat semakin serius membuka opsi operasi militer untuk menguasai Greenland, sebuah wilayah otonom yang berada di bawah proteksi Denmark. Rencana ini memicu reaksi keras dari negara-negara di Eropa dan Kanada, yang menolak tegas gagasan tersebut dan menyebutnya sebagai ancaman nyata.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Gedung Putih, pada Selasa (6/1), menyatakan bahwa Presiden AS Donald Trump memandang penguasaan Greenland sebagai prioritas keamanan nasional. Tujuannya adalah untuk “mencegah ancaman dari pihak lawan di kawasan Arktik.” Mureks mencatat bahwa langkah ini berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik di wilayah kutub utara.
Iran Tuduh AS dan Israel Tunggangi Demo Berdarah
Panglima militer Iran, Jenderal Amir Hatami, menuduh Amerika Serikat dan Israel menunggangi demonstrasi berdarah yang melanda negaranya. Demo tersebut pecah di 92 kota dan dilaporkan menewaskan 36 orang, termasuk dua personel kepolisian, seperti dikutip dari Iran International.
Jenderal Hatami menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam dan membiarkan diri diancam oleh kekuatan luar. Pernyataan ini muncul setelah AS dan Israel secara terbuka mendukung aksi protes anti-pemerintah yang berlangsung pada Rabu (7/1).
Pemimpin STC Proksi UEA Kabur dari Yaman saat Digempur Saudi
Konflik di Yaman kembali memanas dengan kaburnya pemimpin Dewan Transisi Selatan Yaman (STC), Aidarous Al Zubaidi. Ia dilaporkan melarikan diri sebelum koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan terhadap provinsi Dhale di selatan negara itu.
Melansir situs Al Jazeera pada Rabu (7/1) pagi, koalisi tersebut sebelumnya menyatakan bahwa Al-Zubaidi dijadwalkan terbang dari kota Aden, Yaman, pada Selasa malam. Penerbangan itu seharusnya menjadi bagian dari upaya untuk mengakhiri konflik antara kelompoknya dan pemerintah Yaman. Namun, Al Zubaidi tidak naik pesawat dan keberadaannya hingga kini masih belum diketahui.
Referensi penulisan: www.cnnindonesia.com






