Gelombang demonstrasi besar-besaran pecah di berbagai kota besar dunia pada Senin, 5 Januari 2026, menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengklaim telah menyerang Caracas dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Aksi protes ini secara tegas menentang tindakan AS di Venezuela.
Menurut laporan Reuters yang dikutip CNBC Indonesia pada Senin (5/1/2026), demonstrasi serupa juga melanda kota-kota besar di Amerika Serikat, termasuk Washington, DC, New York, Boston, Chicago, dan Los Angeles. Di setiap lokasi, massa yang diperkirakan mencapai sekitar 100 orang turun ke jalan, meneriakkan slogan-slogan penolakan dan mengibarkan bendera Venezuela.
Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Bahkan, sebagian demonstran di AS tetap bertahan di tengah cuaca dingin dan hujan, menunjukkan keteguhan mereka dalam menolak operasi militer yang dilancarkan oleh Presiden Trump. Mureks mencatat bahwa ketahanan para demonstran ini menjadi simbol penolakan keras terhadap intervensi asing.
Di Asia, protes juga terjadi. Di pusat kota Seoul, Korea Selatan, pada Senin, para pendemo membawa poster karikatur Presiden Trump yang diikat dengan tali dan berlutut di samping sebuah wadah bertuliskan “Minyakku”. Seruan ini mencerminkan kekhawatiran global yang meningkat terhadap potensi konflik yang dipicu oleh kepentingan minyak, mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Aksi penolakan terhadap AS juga terlihat di Filipina. Seorang aktivis nampak memegang papan bertuliskan anti-Trump saat berdemonstrasi di dekat Kedutaan Besar AS di Manila. Penyelenggara aksi menyebutkan bahwa gelombang protes lanjutan telah direncanakan berlangsung pada Minggu mendatang, seiring dengan jadwal pengadilan terhadap Maduro terkait dakwaan narkoba dan senjata yang dijadwalkan pekan depan.
Sementara itu, warga Venezuela yang berada di luar negeri mengungkapkan perasaan campur aduk antara kaget dan harapan pasca operasi militer AS dan penangkapan Maduro. Ada pihak yang menyambut gembira kejatuhan rezim yang telah berkuasa puluhan tahun, namun tidak sedikit pula yang mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya sebagai “pengkhianatan” terhadap kedaulatan Venezuela.






