Aidarous al-Zubaidi, pemimpin kelompok separatis Yaman selatan, dilaporkan melarikan diri ke lokasi yang tidak diketahui pada Rabu, 7 Januari 2026. Insiden ini terjadi setelah ia batal menaiki pesawat menuju Riyadh untuk menghadiri perundingan penting mengenai krisis di Yaman, memicu ketidakpastian lebih lanjut dalam konflik yang melibatkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
Juru bicara koalisi pimpinan Arab Saudi, Turki al-Maliki, mengonfirmasi kabar pelarian Zubaidi, seperti dikutip Reuters. Menurut al-Maliki, pesawat yang seharusnya membawa Zubaidi bersama sejumlah pimpinan senior Dewan Transisi Selatan Yaman (STC) tertunda lebih dari tiga jam sebelum akhirnya lepas landas tanpa kehadirannya. Keberadaan Zubaidi hingga kini masih menjadi misteri.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Selama penundaan penerbangan tersebut, koalisi Saudi mendeteksi adanya pergerakan pasukan berskala besar, seruan mobilisasi, serta distribusi senjata ringan dan menengah di wilayah tersebut. Hingga berita ini diturunkan, STC belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden ini. Mureks mencatat bahwa deteksi pergerakan pasukan ini menambah kompleksitas situasi di Yaman selatan.
Perundingan yang seharusnya dihadiri Zubaidi bertujuan untuk membahas konflik terbaru di Yaman selatan. Konflik ini bulan lalu memicu bentrokan sengit antara STC, yang didukung oleh Uni Emirat Arab (UEA), dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional serta didukung oleh Arab Saudi. Dengan pelarian Zubaidi, masa depan perundingan tersebut kini berada dalam ketidakpastian.
Sebagai respons, Dewan Kepresidenan Yaman yang didukung Saudi telah mencopot Zubaidi dari keanggotaannya. Ia juga diserahkan kepada jaksa dengan tuduhan pengkhianatan berat, termasuk menghasut pemberontakan bersenjata dan menyerang otoritas negara.
Retaknya Hubungan Saudi-UEA
Insiden pelarian Zubaidi ini kembali menyoroti keretakan hubungan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua kekuatan utama dalam koalisi yang dibentuk lebih dari satu dekade lalu untuk memerangi kelompok Houthi yang didukung Iran. STC sendiri dibentuk pada tahun 2017 dengan dukungan UEA dan selama bertahun-tahun menjadi bagian integral dari pemerintahan Yaman.
Namun, situasi berubah drastis bulan lalu ketika pasukan STC berhasil merebut wilayah luas di selatan Yaman. Aksi ini secara signifikan mengubah keseimbangan kekuatan dan memicu ketegangan terbuka antara Riyadh dan Abu Dhabi. Sebagai dampaknya, UEA kemudian menarik pasukannya dari Yaman setelah Arab Saudi menilai pergerakan STC berpotensi mengancam keamanan perbatasannya.
Pada hari yang sama, Rabu, 7 Januari 2026, koalisi Saudi mengonfirmasi telah melancarkan serangan udara terbatas. Serangan ini merupakan langkah pencegahan yang ditargetkan di Provinsi al-Dhalea, wilayah selatan Yaman yang juga merupakan kampung halaman Zubaidi. Menurut pantauan Mureks, serangan udara tersebut dilakukan setelah koalisi memantau pergerakan pasukan bersenjata yang dilaporkan telah meninggalkan basis mereka.
Sumber-sumber lokal dan internal STC melaporkan bahwa lebih dari 15 serangan udara telah terjadi di provinsi tersebut, mengindikasikan eskalasi situasi di lapangan.






