Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mengusulkan strategi percepatan pemulihan pascabencana kepada Presiden Prabowo Subianto. AHY menekankan pentingnya perbaikan hunian yang rusak ringan dan sedang secara beriringan dengan pembangunan hunian sementara atau tetap, guna mengurangi jumlah warga di kamp pengungsian.
Usulan tersebut disampaikan AHY dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Aceh Tamiang pada Kamis, 1 Januari 2026. Menurut AHY, fokus pada perbaikan kerusakan ringan dapat secara signifikan mempercepat kembalinya warga ke rumah masing-masing.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Strategi Percepatan Pemulihan Pascabencana
“Memang secara intuisi kita membangun rumah yang rusak berat dulu, bapak. Tetapi sebetulnya kalau kita bisa cepat memperbaiki rumah-rumah yang rusak ringan, justru akan terus mengurangi kamp-kamp pengungsian, karena mereka berarti dengan cepat bisa kembali ke rumah masing-masing,” kata AHY, seperti dipantau Mureks dari keterangan resmi.
AHY menjelaskan, fase rekonstruksi setelah tanggap darurat menjadi prioritas utama kementerian di bawah koordinasi Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Menurut Mureks, sinergi antar kementerian menjadi hal krusial dalam fase rekonstruksi pascabencana.
- Kementerian ATR/BPN: Memastikan tata ruang dan ketersediaan lahan untuk perumahan masyarakat yang akan dibangun kembali.
- Kementerian Pekerjaan Umum: Bertugas sesuai fungsinya dalam pembangunan infrastruktur.
- Kementerian Perumahan Rakyat: Diharapkan dapat mempercepat proses pembangunan rumah.
Data Kerusakan dan Pengurangan Pengungsi
Senada dengan AHY, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian juga mengungkapkan bahwa jumlah warga di posko pengungsian berangsur-angsur berkurang di daerah yang dana bantuan huniannya sudah disalurkan.
“Contoh yang paling bagus adalah di Tapanuli Selatan. Tapanuli Selatan sudah memberikan punya data, sudah dapat dari BNPB, langsung dibayarkan. Sehingga yang di pengungsian itu kemarin Bapak mungkin mendengar laporan tadi malam, dari 21.000 hanya tinggal 4.000 saja,” ungkap Tito dalam rapat tersebut.
Secara keseluruhan, Tito menyebutkan dari tiga provinsi terdampak, ada sekitar 213 ribu rumah yang mengalami kerusakan. “Data yang kami terima untuk tiga daerah provinsi, itu rusak ringan 68.850, rusak sedang 37.520, rusak berat 56.108. Itu per data per tanggal 27 Desember,” terang Tito.
Kategori Kerusakan Jumlah Rumah Rusak Ringan 68.850 Rusak Sedang 37.520 Rusak Berat 56.108






