Tren

Ahmad Rizal Ramdhani: “SPHP Beras Sepanjang Tahun”, Bulog Pastikan Stabilitas Harga Pangan 2026

JAKARTA – Perum Bulog memastikan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk beras akan dilaksanakan sepanjang tahun 2026. Kebijakan ini diambil guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat di tengah potensi gejolak pasar.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengungkapkan bahwa langkah ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, penyaluran beras SPHP tidak berjalan penuh dan sempat terputus, hanya berlangsung sekitar delapan bulan mengikuti kebijakan penugasan pemerintah saat itu.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

“Kalau kemarin kan terputus-putus. Jadi cuma ada delapan bulan kemarin kan. Nah ini harapannya untuk SPHP tahun 2026 itu sepanjang tahun,” kata Rizal dalam jumpa pers bertajuk Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026 di Jakarta, Jumat (02/1). Pernyataan ini menegaskan komitmen Bulog untuk intervensi pasar yang lebih konsisten.

Evaluasi Penyaluran SPHP Tahun 2025

Pelaksanaan program beras SPHP pada tahun 2025 dilakukan secara selektif, menyesuaikan dengan masa panen raya. Awalnya, program ini dirancang untuk berlangsung penuh sepanjang tahun, namun penyalurannya disesuaikan dengan kondisi produksi nasional.

Pada Januari-Februari 2025, pemerintah menyalurkan SPHP karena produksi beras menurun, dengan realisasi distribusi mencapai 181 ribu ton. Penyaluran ini kemudian dihentikan sementara saat memasuki panen raya di berbagai daerah. Penghentian distribusi SPHP saat itu bertujuan agar harga gabah petani tetap sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, yaitu minimal Rp6.500 per kilogram, kecuali untuk daerah tertentu seperti Papua yang tetap disubsidi.

Setelah panen raya selesai, penyaluran SPHP kembali dibuka sejak Juli 2025 dan ditargetkan mencapai 1,3 juta ton hingga Desember 2025. Penyaluran ini bersamaan dengan bantuan pangan berupa beras 10 kilogram yang menyasar 18,3 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Mureks mencatat bahwa realisasi beras program SPHP sepanjang tahun 2025 mencapai 802.939 ton dari target tahunan 1,5 juta ton.

Strategi Penyaluran SPHP 2026

Untuk tahun 2026, Rizal menjelaskan bahwa Bulog merencanakan penyaluran SPHP berjalan konsisten sepanjang tahun. Harapannya, intervensi harga akan lebih efektif dalam meredam gejolak harga di pasaran dan menjaga daya beli masyarakat secara luas.

Meski demikian, penyesuaian volume tetap akan diterapkan oleh Bulog. Terutama saat puncak panen pada Maret dan April, serta Agustus, volume penyaluran akan dikurangi di daerah-daerah sentra produksi. Hal ini dilakukan agar penyaluran tidak menekan harga gabah petani.

“Di saat puncak musim panen bulan Maret dan April termasuk Agustus, itu penyaluran SPHP di daerah-daerah sentra produksi, SPHP-nya dikurangin. Dikecilkan volumenya. Tapi tetap dilakukan supaya apa? Tidak tumpah banyak di pasaran,” beber Rizal.

Sementara itu, bagi daerah di luar sentra produksi pangan, penyaluran SPHP akan tetap berjalan normal sepanjang tahun. Ini untuk memastikan ketersediaan beras terjangkau bagi masyarakat yang membutuhkan.

“Yang di daerah-daerah yang tidak sentra produksi pangan, SPHP-nya tetap jalan seperti biasa. Tapi khusus yang daerah-daerah sentra produksi pangan seperti Jawa, Sumatera, Sulawesi Selatan, NTB itu SPHP-nya dikecilkan volumenya. Tapi yang lain tetap berjalan seperti biasa,” imbuh Rizal, menegaskan strategi distribusi yang adaptif.

Mureks