Menutup tahun 2025, mantan bintang sinetron Ade Fitrie Kirana memilih jalur refleksi mendalam ketimbang perayaan pencapaian. Ia mengajak publik untuk merenungi perjalanan hidup sebagai proses panjang yang sarat makna, ujian, serta pertolongan Tuhan.
Dalam refleksinya, Ade Fitrie Kirana menegaskan bahwa setiap langkah yang ia jalani hingga hari ini bukanlah sebuah kebetulan. Baginya, perjalanan hidup adalah amanah yang harus diemban dengan kesadaran, tanggung jawab, serta niat yang terus diperbaiki.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
“Perjalanan ini sepenuhnya berada dalam pertolongan Allah. Setiap fase kehidupan adalah titipan, bukan sekadar pencapaian,” tulis Ade dalam pernyataannya yang diterima tim redaksi Mureks.
Ade memaknai hijrah yang dipilihnya bukan sekadar perubahan peran atau citra di hadapan publik. Lebih dari itu, hijrah adalah perubahan arah hidup—dari dunia hiburan yang penuh sorotan menuju jalan yang menuntut ketenangan batin, kedisiplinan, serta komitmen kuat pada nilai dan prinsip yang diyakini.
Keputusan besar tersebut tentu tidak hadir tanpa konsekuensi. Ada fase kehilangan yang harus diterima dengan lapang dada, masa-masa ketika langkah terasa berat, serta saat-saat keyakinan diuji oleh keadaan.
“Tidak semua proses berjalan mudah. Tapi justru dari situlah saya belajar tentang kesabaran, kejujuran, dan tawakal,” ungkap Ade Fitrie Kirana.
Dalam perannya sebagai pengusaha, Ade Fitrie Kirana juga menekankan bahwa membangun usaha bukan semata mengejar hasil. Ia memandang bisnis sebagai ruang pengabdian yang harus dijalani dengan visi dan integritas. Setiap usaha, menurutnya, seharusnya membawa manfaat, bukan hanya keuntungan.
Ade menyadari perjalanan ini penuh dinamika. Ada hari-hari ketika bertahan adalah bentuk kekuatan. Ada waktu ketika jeda menjadi kebutuhan agar langkah tetap jernih. Dan ada masa ketika bangkit kembali menjadi pilihan yang harus diambil dengan keyakinan penuh kepada Tuhan.
Kini, di penghujung tahun, Ade memandang kembali perjalanan tersebut dengan rasa syukur yang mendalam. Bukan karena sejauh apa yang telah dicapai, melainkan karena ia masih mampu berjalan di jalur yang diyakini—menjaga amanah, nilai, dan keberkahan dalam setiap peran yang dijalani.
“Perjalanan ini mungkin tidak selalu mudah, tapi ia bermakna,” pungkasnya.
Menutup refleksinya, Ade menyampaikan harapan sederhana namun kuat: terus bertumbuh dengan niat yang semakin lurus, visi yang lebih jernih, serta komitmen untuk memberi manfaat, saling menginspirasi, dan menjaga keberkahan dalam setiap ikhtiar ke depan.






