Internasional

3,2 Juta Penduduk China Diproyeksikan Hilang pada 2026, Krisis Demografi Kian Mengkhawatirkan

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memproyeksikan jumlah penduduk China akan menyusut sekitar 3,2 juta orang pada tahun 2026. Penurunan tahunan ini setara dengan populasi satu negara bagian di Amerika Serikat, menandai semakin seriusnya krisis demografi yang melanda Negeri Tirai Bambu.

Di balik angka tersebut, China menghadapi persoalan yang jauh lebih kompleks. Negara ini bergulat dengan krisis kelahiran dan krisis seks yang kian parah, ditandai oleh rendahnya angka pernikahan, menurunnya aktivitas reproduksi, serta ketimpangan gender akut.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Proyeksi Penurunan Populasi Jangka Panjang

Penurunan populasi terbesar diperkirakan terjadi pada awal tahun 2060-an. Pada tahun 2062, China diproyeksikan kehilangan sekitar 14 juta penduduk dalam satu tahun, atau rata-rata sekitar 1,16 juta orang per bulan. Data ini dikutip dari NewsWeek, Kamis (1/1/2026).

Padahal, selama puluhan tahun, pertumbuhan penduduk menjadi mesin utama ekonomi China. Bahkan hingga awal tahun 2000-an, China masih menambah jutaan penduduk setiap tahun, menciptakan bonus demografi yang mendorong pertumbuhan ekonomi agresif.

Namun, kebijakan satu anak yang diterapkan sejak tahun 1979 meninggalkan dampak jangka panjang. Meskipun pemerintah telah melonggarkan aturan, mulai dari kebijakan dua anak pada tahun 2015, tiga anak pada tahun 2021, hingga penghapusan seluruh batasan kelahiran, angka kelahiran tetap gagal berkembang.

Perubahan kebijakan tersebut datang setelah bertahun-tahun angka fertilitas terus menurun, biaya perumahan dan pendidikan meningkat, serta angkatan kerja yang sudah mulai menua.

Ancaman Serius bagi Perekonomian

China kini menghadapi penurunan populasi yang begitu dramatis hingga sulit dibayangkan skalanya. PBB memperkirakan, penurunan populasi China akan semakin tajam dalam beberapa dekade ke depan.

Pada tahun 2030, jumlah penduduk China diproyeksikan berkurang 17,9 juta orang dibandingkan tahun 2025. Bahkan pada tahun 2100, total penyusutan populasi bisa mencapai lebih dari 760 juta jiwa. Proyeksi median PBB menunjukkan jumlah penduduk China berkurang sekitar 782,7 juta orang dibandingkan tahun 2025 pada tahun tersebut.

Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi perekonomian. Populasi yang menua berarti semakin sedikit tenaga kerja yang menopang semakin banyak pensiunan. Dampaknya, pertumbuhan ekonomi tertekan, sistem pensiun dan kesehatan terbebani, serta kemampuan inovasi jangka panjang melemah.

Upaya Pemerintah dan Tantangannya

Para pemimpin China telah berupaya mendorong kembali angka kelahiran, kadang bersifat simbolis, kadang melalui insentif finansial. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak provinsi dan kota yang meluncurkan subsidi penitipan anak serta insentif tunai bagi keluarga. Pemerintah pusat di Beijing juga bergerak menuju program subsidi penitipan anak berskala nasional.

Salah satu perubahan kebijakan terbaru adalah pencabutan pembebasan pajak yang telah lama berlaku untuk alat kontrasepsi. Langkah ini dilaporkan sebagai bagian dari dorongan pro-kelahiran Beijing.

Namun, menurut Mureks, para peneliti menilai kombinasi kebijakan nasional dan daerah di China masih belum merata. Sejauh ini, upaya tersebut kesulitan menghasilkan kebangkitan angka kelahiran yang berkelanjutan.

Proyeksi memang bukan takdir yang pasti. Namun, arah pergerakan populasi China sudah jelas. Negara yang dulunya menambah jutaan penduduk setiap tahun kini berada di jalur pengurangan, dengan laju yang semakin cepat.

Mureks