Asam urat, yang seringkali hanya dianggap sebagai nyeri sendi biasa, ternyata menyimpan risiko kesehatan yang jauh lebih serius. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan pada sendi, tetapi juga berpotensi meningkatkan ancaman penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.
Data menunjukkan, lebih dari delapan juta orang dewasa di Amerika Serikat kini hidup dengan asam urat. Penyakit radang sendi inflamasi ini, jika tidak ditangani dengan tepat, dapat memengaruhi kesehatan sendi jangka panjang dan memiliki korelasi kuat dengan masalah jantung.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Asam Urat dan Hiperurisemia: Mekanisme di Balik Nyeri
Dalam kondisi normal, asam urat larut dalam darah dan dibuang oleh ginjal. Namun, proses ini dapat terganggu, menyebabkan peningkatan kadar asam urat dalam tubuh. Dr. Jaime Cloyd, seorang dokter naturopati di Seattle, Amerika Serikat, menjelaskan, “peningkatan kadar asam urat terjadi ketika tubuh memproduksi asam urat secara berlebihan atau mengalami kesulitan dalam mengeluarkannya.” Ketidakseimbangan ini dikenal sebagai hiperurisemia.
Jika konsentrasi asam urat dalam darah terlalu tinggi, kristal-kristal asam urat akan terbentuk dan mengendap di persendian, paling sering di jempol kaki, pergelangan kaki, atau lutut. Endapan kristal ini memicu respons peradangan dari sistem kekebalan tubuh, yang berujung pada nyeri hebat, pembengkakan, kemerahan, dan rasa hangat pada sendi yang terdampak.
Empat Tahap Perkembangan dan Gejala Asam Urat
Penyakit asam urat berkembang melalui empat tahap klinis. Tahap awal adalah hiperurisemia asimptomatik, di mana kadar asam urat serum melebihi 7 mg/dL tanpa gejala. Kemudian berlanjut ke asam urat akut, ditandai serangan nyeri tunggal yang biasanya mereda dalam beberapa hari.
Tahap selanjutnya adalah asam urat berulang, dengan serangan akut yang lebih sering dan melibatkan lebih banyak sendi. Paling parah adalah gout tophaceous kronis, yang ditandai pembentukan tofi (endapan kristal) di sendi, menyebabkan nyeri terus-menerus dan keterbatasan gerak.
Gejala utama serangan meliputi nyeri tiba-tiba yang tajam dan berdenyut, pembengkakan, peradangan sendi, keterbatasan gerak, kulit mengilap dan meregang, hingga demam ringan. Serangan umumnya berlangsung beberapa hari hingga seminggu, dan kekambuhan berisiko terjadi tanpa penanganan yang baik.
Faktor Pemicu Asam Urat: Dari Diet hingga Genetika
Hiperurisemia utamanya disebabkan oleh ketidakseimbangan metabolisme purin. Diet tinggi purin, seperti konsumsi berlebihan daging merah, jeroan, makanan laut, dan beberapa jenis kacang-kacangan, dapat meningkatkan produksi asam urat.
Faktor genetika juga memainkan peran signifikan. Asam urat cenderung diturunkan dalam keluarga, menunjukkan predisposisi genetik. Polimorfisme C677T pada gen MTHFR, misalnya, diketahui dapat memperburuk ketidakseimbangan peradangan.
Selain itu, asam urat seringkali terkait dengan kondisi medis lain seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes, yang secara kolektif dikenal sebagai sindrom metabolik. Gangguan sensitivitas insulin dan metabolisme glukosa/lipid dapat menurunkan ekskresi asam urat. Penggunaan obat tertentu, seperti diuretik untuk tekanan darah tinggi, juga bisa menghambat pengeluaran asam urat oleh ginjal.
Kaitan Erat dengan Penyakit Kardiovaskular
Asam urat sering muncul bersamaan dengan sindrom metabolik, yang mencakup obesitas, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol abnormal, dan resistensi insulin. Oleh karena itu, skrining kardiometabolik sangat penting bagi penderita asam urat untuk mendeteksi komorbiditas sejak dini.
Pasien asam urat memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke, karena berbagi faktor risiko yang sama. Pemeriksaan kardiometabolik komprehensif biasanya meliputi pengukuran tekanan darah, lingkar pinggang, panel lipid, panel metabolik komprehensif, panel diabetes, hs-CRP, serta panel tiroid.
Strategi Pengelolaan Asam Urat yang Optimal
Tujuan utama pengelolaan asam urat adalah meredakan nyeri dan peradangan saat serangan akut, serta mencegah kekambuhan. Pendekatan ini melibatkan modifikasi diet dan pengobatan integratif.
Diet rendah purin dan bersifat alkali direkomendasikan untuk mengurangi asupan purin dan meningkatkan kelarutan asam urat. Pembatasan alkohol dan minuman tinggi fruktosa juga krusial, mengingat metabolisme fruktosa dapat meningkatkan produksi asam urat.
Selain diet, beberapa suplemen dapat membantu. Vitamin C dapat meningkatkan ekskresi asam urat, sementara asam lemak omega-3 EPA dan DHA berperan membatasi produksi mediator inflamasi. Ekstrak buah ceri, dengan kandungan antosianin, dikenal memiliki sifat antioksidan dan antiinflamasi yang mendukung kesehatan sendi dan pengelolaan asam urat.
Mureks merangkum, pemahaman yang komprehensif mengenai asam urat, mulai dari penyebab, perkembangan, hingga kaitannya dengan risiko kardiovaskular, menjadi langkah awal yang krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.






