Pemerintah Venezuela menuding Amerika Serikat (AS) melancarkan serangkaian serangan militer yang tidak hanya menargetkan fasilitas militer, tetapi juga berdampak pada daerah permukiman warga sipil. Tuduhan ini muncul bersamaan dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang menyatakan pasukannya telah berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Venezuela: Serangan Helikopter Tempur Sasar Warga Sipil
Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, dalam sebuah rekaman video yang dibagikan pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat, menyebut militer AS menggunakan helikopter tempur untuk melepas roket dan menembakkan amunisi ke sejumlah titik di Caracas.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
“Pasukan AS yang menyerbu telah menodai tanah kami, bahkan sampai menyerang menggunakan rudal dan roket yang ditembakkan dari helikopter tempur mereka, daerah pemukiman yang dihuni oleh warga sipil,” kata Padrino Lopez, seperti dikutip dari AFP.
Lopez menambahkan, pihak berwenang Venezuela sedang mengumpulkan informasi mengenai korban luka dan tewas akibat ‘serangan keji dan pengecut’ tersebut. Menurutnya, daerah permukiman yang terkena dampak berada di sekitar Fuerte Tiuna, kompleks militer terbesar Venezuela di selatan Caracas.
Laporan serangan juga mencakup negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira, yang merupakan kawasan penyangga ibu kota. Mureks mencatat bahwa serangan ini terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat.
Menyikapi agresi ini, Lopez menegaskan Venezuela akan meluncurkan mobilisasi besar-besaran dari kemampuan militer darat, laut, udara, sungai, hingga rudal, “untuk pertahanan komprehensif.”
Kesaksian Warga dan Klaim Penangkapan Maduro
Seorang warga kota pesisir Higuerote, sekitar 85 kilometer timur Caracas, menceritakan detik-detik serangkaian ledakan yang mengguncang wilayahnya. Warga berusia 23 tahun itu awalnya mengira suara ledakan sebagai kembang api, sebelum menyadari situasi yang jauh lebih serius.
Menurut kesaksiannya, ledakan terjadi berulang kali hingga membuat tanah bergetar dan memicu kepanikan warga. Langit di atas kota dilaporkan berubah menjadi merah, sementara warga berlarian keluar rumah sambil berteriak ketakutan. Suara ledakan juga terdengar di Negara Bagian La Guaira.
Setelah ledakan pertama, situasi sempat hening sekitar 20 menit, namun suara pesawat kembali terdengar, disusul dua ledakan lainnya yang membuat seluruh area bergetar. “Ledakan-ledakan itu terlihat terarah, tetapi seolah-olah menghancurkan seluruh bandara,” katanya, dikutip CNN.
Hingga beberapa jam setelah kejadian, belum ada suara sirene ambulans, polisi, maupun pemadam kebakaran. Ledakan terakhir disebut terjadi sekitar 40 menit sebelum kesaksiannya disampaikan, dengan warga masih diliputi ketakutan dan membagikan rekaman video kejadian melalui media sosial.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan militernya telah berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, dan membawa mereka keluar dari wilayah Venezuela.
Melalui platform media sosial Truth Social, Trump mengonfirmasi bahwa AS telah melakukan ‘serangan skala besar terhadap Venezuela’. Ia menekankan operasi militer ini dilakukan ‘bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS’.
“Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan sedang menerbangkannya keluar dari Venezuela,” tulis Trump dalam unggahannya, seperti dikutip dari CNN.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Venezuela terkait klaim penangkapan tersebut. Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez, pada Sabtu pagi di stasiun televisi negara itu, mengaku tidak mengetahui keberadaan Maduro dan Flores.






