PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) telah mengumumkan kesepakatan pelepasan atau divestasi bisnis tehnya di Indonesia yang menggunakan merek SariWangi. Bisnis teh legendaris ini resmi dialihkan kepada PT Savoria Kreasi Rasa, sebuah perusahaan Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) lokal.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya transformasi portofolio Unilever Indonesia untuk lebih memusatkan bisnis pada kategori inti yang dinilai memiliki potensi pertumbuhan besar dan berkelanjutan. Perjanjian Pengalihan Bisnis (Business Transfer Agreement/BTA) telah ditandatangani pada 6 Januari 2026.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Presiden Direktur Unilever Indonesia, Benjie Yap, menyatakan keyakinannya bahwa transaksi ini akan memperkuat posisi bisnis SariWangi untuk mencapai fase pertumbuhan berikutnya. “Langkah ini sekaligus mempertajam fokus Unilever Indonesia pada segmen utama yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi dan menegaskan komitmen kami untuk menciptakan nilai berkelanjutan bagi para pemegang saham,” ungkap Benjie dalam keterangan tertulis pada Rabu (7/1/2026).
Divestasi ini sejalan dengan strategi optimalisasi portofolio perseroan, di mana Unilever Indonesia akan mengalokasikan sumber daya pada kategori yang lebih sedikit namun memiliki skala dan peluang pertumbuhan yang lebih kuat. Mureks mencatat bahwa SariWangi, yang diakuisisi Unilever Indonesia pada tahun 1989, merupakan pionir teh celup dan telah dipercaya keluarga Indonesia selama lebih dari tiga dekade berkat kualitas, inovasi, dan loyalitas konsumennya.
Menurut data dari BCA Sekuritas, nilai transaksi divestasi ini disepakati sebesar Rp 1,5 triliun di luar pajak. Angka ini sedikit lebih tinggi dari hasil penilaian independen Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Suwendho Rinaldy dan Rekan yang menetapkan valuasi Rp 1,488 triliun. Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2025, nilai transaksi tersebut setara dengan sekitar 45% dari total ekuitas perseroan.
Manajemen Unilever Indonesia menjelaskan bahwa penjualan bisnis teh ini akan memungkinkan perseroan untuk merealisasikan nilai investasi serta mengembalikan nilai kepada para pemegang saham dalam jangka pendek. “Penjualan bisnis teh ini memungkinkan Perseroan untuk merealisasikan nilai investasi serta mengembalikan nilai kepada para pemegang saham dalam jangka pendek, sekaligus meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang,” tulis manajemen.
Kontribusi bisnis teh SariWangi terhadap kinerja konsolidasi Unilever Indonesia tergolong moderat. Bisnis ini menyumbang sekitar 2,5% dari total aset, serta masing-masing 3,1% terhadap laba bersih dan 2,7% terhadap pendapatan usaha.
Transaksi ini dikategorikan sebagai Transaksi Material sesuai ketentuan POJK 17/2020. Namun, divestasi ini tidak memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) karena nilainya berada di bawah ambang batas 50% ekuitas. Penyelesaian transaksi ditargetkan rampung pada semester pertama 2026, setelah seluruh persyaratan penutupan terpenuhi.






