Industri reksa dana Tanah Air mencatatkan pertumbuhan signifikan sepanjang tahun 2025, dengan total aset kelolaan (AUM) yang mencapai rekor tertinggi. Pencapaian ini memicu optimisme di kalangan manajer investasi bahwa tren positif akan berlanjut pada tahun 2026.
Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa total AUM industri reksa dana berhasil menyentuh level tertinggi pada Desember 2025. Angka ini tidak hanya melampaui realisasi tahun sebelumnya, tetapi juga menjadi yang tertinggi sejak tahun 2020. Sepanjang 2025, AUM reksa dana tumbuh sebesar 35,94 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi Rp 658,69 triliun. Sementara itu, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana juga mengalami peningkatan 35,26 persen, mencapai Rp 675,32 triliun. Catatan Mureks menunjukkan, pertumbuhan ini didorong oleh berbagai faktor makroekonomi dan minat investor yang meningkat.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Prospek Positif Didukung Stabilitas Makroekonomi dan Kebijakan Moneter
Donny, Head of Equity Sinarmas Asset Management, menyatakan keyakinannya terhadap prospek pasar reksa dana. “Kami memandang prospek pasar reksa dana di 2026 tetap positif dan berkelanjutan, seiring dengan stabilitas makroekonomi domestik, inflasi yang terjaga, serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global,” ujarnya pada Jumat (9/1/2026).
Faktor domestik seperti stabilitas makroekonomi dan inflasi yang terkendali menjadi penopang utama. Selain itu, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter global turut berperan dalam mendorong minat investor terhadap aset berisiko, seperti saham dan instrumen pendapatan tetap. Kondisi ini secara langsung membuka peluang besar bagi industri reksa dana, mengingat instrumen-instrumen tersebut merupakan underlying asset dari produk reksa dana.
Penurunan Suku Bunga BI dan Pertumbuhan Investor Jadi Katalis
Optimisme serupa juga disampaikan oleh Direktur Korea Investment Management Indonesia (KIM), Arfan Fasri Karniody. Ia menilai prospek industri reksa dana pada tahun 2026 masih sangat menjanjikan. “Didukung oleh potensi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia yang diperkirakan terjadi hingga tiga kali pada tahun ini, serta pertumbuhan jumlah investor di pasar modal,” jelas Arfan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, jumlah investor pasar modal Indonesia mengalami peningkatan signifikan sebesar 34,8 persen secara tahunan, mencapai 20,04 juta single investor identification (SID) sepanjang tahun 2025. Kombinasi faktor-faktor ini dinilai akan semakin memperkuat daya tarik industri reksa dana pada tahun ini.
Arfan menambahkan, pihaknya juga masih menantikan dampak positif dari stimulus likuiditas serta efek program MBG terhadap perekonomian. “Seiring dengan arah APBN yang kini lebih jelas karena sudah memasuki tahun kedua dan tidak lagi berada dalam fase transisi,” katanya.
Strategi Manajer Investasi Hadapi 2026
Pandangan sejalan datang dari Direktur Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Eri Kusnadi, yang menilai kondisi pasar modal domestik pada 2026 cenderung positif. Berdasarkan perhitungan internal, Batavia Prosperindo mencatatkan pertumbuhan AUM sebesar 9,6 persen secara tahunan, mencapai Rp 49,37 triliun.
Pertumbuhan AUM Batavia Prosperindo ini terutama ditopang oleh kinerja reksa dana pasar uang, reksa dana global, dan reksa dana indeks. Salah satu produk unggulan mereka, Batavia Dana Kas Maxima, tercatat tumbuh 4,35 persen sepanjang 2025 hingga November.
Dalam menyusun strategi pengelolaan portofolio untuk tahun 2026, Eri menyebut Batavia Prosperindo cenderung mempertahankan saham-saham yang sebelumnya digunakan dalam reksa dana saham dan campuran. Untuk obligasi pemerintah, perseroan memilih strategi netral durasi, sementara untuk obligasi korporasi, penekanan diberikan pada kualitas kredit dan fundamental emiten.
“Kami fokus pada tema-tema yang selaras dengan fokus pertumbuhan ekonomi yang direncanakan oleh pemerintah, seperti konsumer dan kesehatan,” pungkas Eri.






