Keuangan

OJK dan BI Proyeksikan Pertumbuhan Kredit Perbankan 2025 Lampaui Batas Bawah Target

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) sama-sama optimistis pertumbuhan kredit perbankan nasional pada penutupan tahun 2025 akan melampaui batas bawah target yang telah ditetapkan. Meskipun angka resmi belum diumumkan, indikator hingga November 2025 menunjukkan kinerja intermediasi perbankan yang solid, terutama didorong oleh sektor kredit investasi.

Proyeksi OJK: Kredit Solid, DPK Double Digit

Kepala Pengawas Eksekutif Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Desember 2025 pada Jumat (9/1/2026), melaporkan adanya peningkatan signifikan pertumbuhan kredit menjelang akhir tahun lalu. “Kinerja intermediasi sampai akhir 2025 diperkirakan semakin solid, dengan pertumbuhan kredit diperkirakan akan di atas batas bawah target yang ditetapkan OJK,” kata Dian.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

OJK sebelumnya menargetkan pertumbuhan kredit perbankan berada di kisaran 9% hingga 11% sepanjang 2025. Sementara itu, OJK juga meyakini Dana Pihak Ketiga (DPK) akan mencapai pertumbuhan dua digit, menandakan kemampuan perbankan dalam mengatasi berbagai tantangan.

Menurut catatan Mureks, penyaluran kredit perbankan per November 2025 mencapai Rp8.315 triliun, tumbuh 7,74% secara tahunan (YoY). Angka ini sedikit meningkat dari bulan sebelumnya yang tercatat tumbuh 7,36%.

Kredit Investasi Memimpin, UMKM Masih Kontraksi

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi per November 2025, yakni sebesar 17,98% YoY. Disusul oleh kredit konsumsi yang tumbuh 6,67%, sedangkan kredit modal kerja tumbuh 2,04% YoY.

Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh 12% YoY. Namun, Dian mengakui bahwa kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan berat dan terkontraksi.

Di sisi lain, DPK tercatat tumbuh 12,03% YoY menjadi Rp9.899,07 triliun per November 2025, setelah sebelumnya tumbuh 11,48% YoY.

Kualitas dan Ketahanan Perbankan Terjaga

Kualitas kredit perbankan tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) gross sebesar 2,21% (sedikit naik dari November 2024 sebesar 2,19%) dan NPL net 0,86% (naik dari November 2024 sebesar 0,75%).

OJK juga mencatat Loan at Risk (LaR) sebesar 9,22% pada November 2025, turun dibandingkan November 2024 yang sebesar 9,82%. Dian Ediana Rae menegaskan bahwa rasio LaR tercatat stabil di level sebelum pandemi.

Dari sisi ketahanan, permodalan perbankan yang diukur dari Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 26,05% per November 2025, sedikit turun dari November 2024 sebesar 26,87%.

Optimisme BI: Target 8% Terlampaui Berkat Investasi

Bank Indonesia juga meyakini pertumbuhan kredit perbankan mampu menembus 8% pada penutupan tahun buku 2025. Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M. Juhro, mengakui laju pertumbuhan kredit tahun ini menghadapi tekanan lebih berat dibandingkan tahun lalu.

Meskipun demikian, Solikin menilai capaian 7,74% YoY per November 2025 masih dalam koridor sehat, ditopang fundamental perbankan dan korporasi yang solid. “Per November ini tumbuh 7,74%. Mudah-mudahan, Insyaallah di Desember nanti akhir tahun bisa di atas 8% sebagaimana target Bank Indonesia,” ujarnya dalam Taklimat Media BI, Senin (22/12/2025).

Optimisme Bank Sentral ini didorong oleh kinerja Kredit Investasi (KI) yang tumbuh impresif sebesar 17,98% YoY per November 2025. Solikin menjelaskan, “Tingginya kredit investasi ini memberikan harapan bahwa persepsi ekonomi ke depan itu tinggi atau menggeliat, sejalan dengan program strategis dan prioritas pemerintah yang terus didorong.”

Kondisi ini kontras dengan Kredit Modal Kerja (KMK) yang tumbuh landai di level 2,39% YoY. Solikin menganalisis rendahnya pertumbuhan KMK merefleksikan kondisi operasional jangka pendek di sejumlah sektor ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, sehingga kebutuhan likuiditas harian korporasi cenderung tertahan.

Secara keseluruhan, otoritas moneter memastikan ketahanan perbankan tetap terjaga kokoh, tercermin dari parameter utama seperti permodalan, likuiditas, dan risiko kredit yang berada dalam zona aman. Selain itu, korporasi juga dinilai memiliki kapasitas pembayaran yang baik.

Mureks