Berita

Tumpukan Sampah Baru Muncul di Tangsel, Status Darurat Diperpanjang hingga 19 Januari 2026

Permasalahan sampah di Tangerang Selatan (Tangsel) belum juga usai. Meskipun telah dialihkan ke Cileungsi, tumpukan sampah baru kembali terlihat di beberapa titik, salah satunya di sekitar Pasar Cimanggis. Situasi ini mendorong Pemerintah Kota Tangsel memperpanjang status tanggap darurat pengelolaan sampah hingga 19 Januari 2026.

Status Darurat Diperpanjang Setelah Evaluasi

Sebelumnya, Pemkot Tangsel telah menetapkan status tanggap darurat pengelolaan sampah dari 23 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, berdasarkan Keputusan Wali Kota Nomor 600.1.17.3/Kep.500-Huk/2025. Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie, saat itu mengimbau warga untuk tidak membuang sampah di titik-titik penumpukan dan memastikan pengangkutan sampah dilakukan bertahap.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Namun, hasil evaluasi menunjukkan bahwa tumpukan sampah masih ditemukan di berbagai lokasi. Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tangsel, Essa Nugraha, menyatakan perpanjangan status darurat ini akan difokuskan pada optimalisasi pembersihan dan pengangkutan sampah, serta penegakan perilaku buang sampah.

“Pada masa perpanjangan difokuskan pada optimalisasi pembersihan dan pengangkutan sampah serta optimalisasi penegakan perilaku buang sampah,” kata Essa Nugraha, dikutip Antara, Kamis (8/1).

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Tangsel, Tb Asep Nurdin, menambahkan bahwa perpanjangan ini bertujuan untuk memastikan pelayanan kebersihan tetap maksimal dan kondisi kota kembali normal sepenuhnya.

Penolakan Warga Serang dan Pengalihan ke Cileungsi

Sebelum pengalihan ke Cileungsi, Pemkot Tangsel sempat menjalin kerja sama dengan Pemkot Serang untuk membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong, Taktakan, Kota Serang. Namun, langkah ini menuai protes keras dari warga Taktakan.

Warga mengeluhkan air lindi dari truk pengangkut sampah Tangsel yang mencemari jalanan dan menimbulkan bau tidak sedap. Demonstrasi pun digelar di Kantor Kecamatan Taktakan, menuntut penghentian pengiriman sampah.

“Mohon ditunjukkan tanda tangan masyarakat yang setuju, biar kami tahu siapa saja yang setuju. Berarti ini bukan mengatasnamakan masyarakat Taktakan. Masyarakat Taktakan untuk sementara ini menolak. Saya sendiri merasakan baunya,” ujar Yuda, salah satu perwakilan warga Taktakan.

Menanggapi aspirasi warga, Sekretaris Daerah Kota Serang, Nanang Saefudin, memutuskan untuk menghentikan sementara penerimaan sampah dari Tangsel yang baru diujicobakan sejak 1 Januari 2026.

“Ini kan baru uji coba beberapa hari. Kita hentikan dulu untuk dilakukan evaluasi. Saya pikir wajar masyarakat menyampaikan aspirasinya, baik dengan keras maupun lembut. Poinnya, kita akan melakukan perbaikan-perbaikan,” jelas Nanang.

Akibat penolakan tersebut, Pemkot Tangsel segera mengalihkan pembuangan sampah ke tempat penampungan di Cileungsi, Kabupaten Bogor. Wali Kota Benyamin Davnie menyebutkan bahwa sebanyak 200 ton sampah per hari akan dikirim ke Cileungsi selama 14 hari ke depan.

“Sebanyak 200 ton sampah per hari akan dikirim ke Cileungsi selama 14 hari ke depan,” kata Benyamin Davnie di Tangerang, dikutip Antara, Kamis (8/1).

Pengalihan ini, menurut Benyamin, dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi tumpukan sampah di permukiman maupun ruang publik di Tangsel, terutama setelah penghentian sementara ke TPAS Cilowong.

Tumpukan Sampah Baru Muncul di Pasar Cimanggis

Meskipun upaya pengangkutan dan pengalihan telah dilakukan, masalah sampah di Tangsel belum sepenuhnya teratasi. Menurut pantauan Mureks, pada Jumat (9/1), tumpukan sampah di sekitar Pasar Cimanggis, Tangerang Selatan, yang sebelumnya telah diangkut, kini kembali muncul.

Petugas Satpol PP tampak berjaga di lokasi yang telah dipasang tali pembatas untuk mencegah warga membuang sampah sembarangan. Namun, bau sampah masih tercium kuat di area tersebut, dan tumpukan sampah baru terlihat di sekitar pasar.

Seorang warga bernama Tara (38) mengungkapkan bahwa tumpukan sampah baru itu mulai terlihat pada pagi hari. Ia menduga kemunculan sampah baru ini disebabkan oleh larangan membuang sampah di samping pasar yang sebelumnya menjadi lokasi penumpukan.

“Nah kalau itu baru. Kalau yang di sana (samping pasar) udah diangkut,” kata Tara. “Saya sendiri merasakan baunya.”

Mureks